Taman Sayogya, 12 Februari 2025 Sejak zaman SD kita sudah dilatih untuk menanam kacang tanah dengan bahan dan cara yang sederhana. Hanya butuh cup plastik dan kapas basah sebagai media tanamnya. Senang sekali rasanya ketika biji kacang tanah mulai berkecambah lalu muncul beberapa daun. Tapi sayang proses itu tidak pernah berlanjut sampai menjadi tanaman kacang tanah dewasa, berbunga, dan panen kacang tanah. Dan menjadi misteri sepanjang masa, sampai menjadi orang dewasa kita tidak pernah tahu bagaimana bentuk tanaman kacang tanah dewasa. Hiks, sediiih 😢 Mari putus siklus ini. Mari kita ajarkan anak-anak kita belajar menanam sampai tuntas. From farm to table. Anak-anak perlu menyaksikan dan terlibat secara langsung proses panjang sebuah tanaman ditumbuhkan sama Allah, dirawat oleh manusia sampai akhirnya terhidang di meja makan sebagai suplai energi untuk manusia beribadah dan beraktivitas. Biji kacang yang mulai disemai di bulan Rabiul Akhir sudah bisa dipanen 3 bulan kemudian. Anak-anak dipandu secara intens oleh Bu Tyas sejak persiapan lahan, benih, sampai proses panen. Setelah dipanen, tempo hari sudah diolah dengan cara direbus dan sudah disajikan untuk berbagai agenda: dimakan bersama, disajikan untuk orangtua ketika Progress Discussion, disajikan untuk tamu yang berkunjung ke SAYOGYA, disajikan untuk orangtua ketika agenda Orientasi di awal semester. Sisanya dikeringkan untuk diolah menjadi kue kacang 😍🤩 Ide membuat kue kacang muncul karena sebentar lagi Lebaran 😍😅 eh Ramadhan aja belum. Hihihi, astaghfirullah 🙈 Dalam proses pembuatannya, kami bekerjasama dengan salah satu orangtua murid. Beliau adalah Budhe Suratmi atau lebih kami kenal dengan Budhe Yanto. Beliau adalah salah satu warga Padukuhan Beran Kidul, dimana SAYOGYA ini berada. Putra beliau saat ini adalah siswa jenjang Muda (setara SMP). Kue kacang yang mungkin sebagian besar anak-anak selama ini langsung ‘hap’ menyantap, kali ini mereka dilatih untuk untuk mengikuti prosesnya dari awal. Biji kacang tanah yang sudah kering disangrai terlebih dahulu dengan wajan tanah liat. Setelah itu, kulit arinya dilepas. Di proses ini, siswa Semai Mula distimulasi untuk belajar motorik halus untuk mengelupas kulit ari biji kacang tanah. Untuk memisahkan biji dan kulit ari yang sudah dikelupas, anak-anak menyaksikan sebuah proses ‘napeni’ yang dilakukan oleh pamong (Jawa-red). Mereka pun sangat excited karena kulit ari yang begitu ringan beterbangan dan biji-biji kacang tanah berlompatan. Proses selanjutnya adalah menghaluskan biji kacang tanah, menimbang bahan, membuat adonan, membentuk adonan. Lagi-lagi motorik halus anak-anak diasah. Anak-anak juga belajar sains dari proses memanggang. Aroma harum sudah menguar dari dalam oven. Wangiii 😍🤩 Setelah shalat Dzuhur dan makan siang, anak-anak pun mencicip hasil kerjasama kita bersama. Enaaak bangeeet 😍🥰 Buka PO kue kacang nggak ya? 😆😆 Tulisan oleh : Desi MayasariFoto oleh : Guru-guru Semai dan Mula SAYOGYA | Redaktur konten : Muflih Fathoniawan
Read MorePada Rabu, 12 Februari 2025 di Sanggar Sayogya, siswa putra kelas Madya, Muda, dan Dewasa berlatih mengumandangkan adzan bersama Pak Hamza. Dalam sesi kajian diniyah di Sanggar, Pak Hamza melatih siswa untuk mengumandangkan adzan.Siswa satu persatu diminta untuk mengumandangkan adzan, sembari diarahkan untuk memakai nada. Belajar mengumandangkan adzan ini dilatihkan salah satu tujuannya agar kelak dapat meneruskan kaderisasi dan bisa diandalkan di masjid di lingkungan tempat tinggal masing². Dimana saat ini banyak masjid yg muadzinnya adalah bapak-bapak tua yang sebetulnya membutuhkan peran pemuda Narasi dan video: Aisya Ilmiya Redaktur : Muflih Fathoniawan
Read MoreMembaca nyaring menjadi salah satu rutinitas harian siswa Semai Mula. Sesi ini biasanya dilakukan setelah waktu istirahat dan dilakukan dalam rentang waktu 10-15 menit. Tidak lama memang durasinya, tapi rutinitasnya yang kami jaga agar anak-anak senantiasa terhubung dengan buku dan literasi. Buku yang dibacakan adalah buku yang anak-anak bawa dari rumah. Karena banyak yang antusias, maka dibuatlah sistem antre. Buku diberi label nama dan urutan tayang 😄😄 Dari pengalaman selama ini, anak-anak merasa sangat bersemangat, berharga, dan bahagia ketika buku yang mereka bawa dari rumah dibacakan oleh Bu Desi di depan teman-teman yang lain. Buku yang dibaca memang acak karena berdasarkan urutan antrian. Tapi di akhir sesi membaca nyaring selalu ditarik refleksi, dihubungkan dengan 5 relasi penting di milestone perkembangan anak-anak. Dari aktivitas membaca nyaring ini anak-anak belajar mendengarkan, belajar ragam emosi, belajar cara mengekspresikan pikiran dan perasaan dalam bentuk kata dan kalimat. Semoga semakin ekspresif dan artikulatif ya, anak-anak ❤️
Read MoreBergerak menjadi kebutuhan mendasar anak-anak. Anak-anak yang aktif bergerak akan bahagia. Anak-anak yang bahagia juga akan aktif bergerak. Dua hal tersebut berkorelasi positif timbal balik dan saling mempengaruhi. Oleh karenanya, setiap hari Rabu, anak-anak jenjang Semai dan Mula Sekolah Alam Yogyakarta diajak untuk melatih raga fisik mereka dalam kegiatan outbound dan permainan tradisional. Di awal kehidupannya anak-anak perlu secara bertahap belajar menguatkan fisik motorik dan latihan koordinasi gerak serta keseimbangan tubuh.Ini perlu dilatihkan agar anak-anak tuntas motorik di usia yang semestinya. Pada Rabu, 5 Februari 2025, anak-anak Sekolah Alam Yogyakarta SAYOGYA diajak untuk bermain adu ketangkasan dengan bola. Sementara itu di zaman sekarang tantangan bergeraknya anak-anak terdistraksi oleh benda bernama hape. Anak-anak yang banyak terhubung dengan gadget akan malas bergerak. Jelas ini menghambat perkembangan fisik motorik mereka. Lebih jauh, hal tersebut akan mempengaruhi emosi mereka. Di SAYOGYA anak-anak dilatih untuk banyak bergerak. Ada banyak ragam kegiatan yang menstimulasi anak-anak untuk bergerak. Rutin setiap hari Rabu anak-anak dilatih untuk berolahraga, melakukan pemanasan sederhana, jalan kaki atau jogging, melakukan latihan ketangkasan, permainan tradisional, maupun low and high impact outbound. Hal sederhana yang mungkin tidak terlalu dilirik ketika orangtua/guru banyak fokus di tataran akademik, yang ternyata dampaknya besar jika anak tidak tuntas motorik. Dampaknya akan terbawa sampai dewasa! Foto : Dokumentasi Pamong SayogyaTulisan : Desi MayasariRedaktur : Muflih Fathoniawan
Read MoreDari tahu kupat anak-anak belajar bahwa beras dapat dimasak dalam bentuk olahan lain dengan bungkus bahan alam Tidak seperti hari Selasa, Rabu, dan Kamis, hari Jumat siswa Semai Mula tidak membawa bekal makan siang ke sekolah. Kenapa? Karena setiap hari Jumat siswa berlatih dan membantu memasak di sekolah. Tak terkecuali pada Jumat, 7 Februari 2025 lalu. Tidak semua siswa terlibat dalam kegiatan memasak. Di waktu yang sama, siswa yang lain berkegiatan terkait pekerjaan pertukangan atau literasi berdasarkan kebutuhan dan giliran. Menu yang dimasak beragam dan berganti-ganti setiap pekannya. Kali kemarin menu yang dimasak adalah tahu kupat. Makanan dengan kombinasi ketupat, tahu, tauge, kol, daun bawang, seledri, bawang goreng dan kerupuk berpadu dengan kuah dengan cita rasa manis dan asam ditambah taburan kacang tanah bubuk menggugah selera kita semua Jumat siang itu. Apalagi untuk orang dewasa ditambah dengan sambal cabe rawit pedas. Wuaaahhh, rasanya mantap sekaliii 😍😋 Dari tahu kupat anak-anak belajar bahwa beras dapat dimasak dalam bentuk olahan lain dengan bungkus bahan alam, yakni daun kelapa yang masih muda yang disebut janur kelapa. Bersamaan dengan itu dihadirkan pula lontong dengan bungkus daun pisang. Betapa sejak zaman dahulu nenek moyang kita sudah mewariskan ilmu membungkus dengan bahan yang ramah alam, yang akan kembali ke tanah setelah dimanfaatkan. Kira-kira 2 jam waktu yang dibutuhkan untuk menyajikan sekitar 50 porsi tahu kupat. Para pamong bekerja sama dengan para siswa Semai dan Mula putri untuk menyelesaikannya. Para siswa pun riang gembira menerima tugas. Ada yang membantu menghaluskan bumbu, menumbuk kacang tanah, mengiris dan menggoreng tahu, dll. Semoga latihan-latihan kecil dalam proses memasak mematrikan sebuah kebiasaan baik bagi siswa perempuan untuk terbiasa menyajikan menu sehat bagi keluarga. Semoga menu tahu kupat ini tidak hilang dari peradaban. Foto : Dokumentasi Pamong Sayogya Tulisan : Desi MayasariRedaktur : Muflih Fathoniawan
Read More(Taman Sayogya, 4/2/2025) Perjalanan belajar sebulan diikat dalam sebuah agenda refleksi. Ini rutin dilakukan dengan berbagai cara agar apa-apa yang selama ini dipelajari terikat makna dan hikmahnya ❤️ Di refleksi kali ini siswa dibagi menjadi dua kelompok dengan komposisi siswa Semai (4-6 tahun) dan Mula (6-9 tahun). Sebelum memulai permainan mereka diminta untuk berdiskusi dan bersepakat menentukan nama tim, juru bicara, dan bunyi bel. Pertanyaan demi pertanyaan diluncurkan. Anak-anak sangat antusias bergantian merespon 😍🤩 Pertanyaan yang yang digulirkan tentang dengan apa yang telah dipelajari selama bulan Rajab kemarin terkait 5 relasi penting: Allah, keluarga, diri, masyarakat, dan alam. Gelak tawa mewarnai aktivitas kami siang itu. Anak-anak terlihat bahagia dan menikmati prosesnya 🥰 Semoga aliran pengetahuan, latihan keterampilan dan kebiasaan selama sebulan kemarin membekas dalam keseharian anak-anak dan menguatkan keyakinan mereka dalam ikhtiar belajar hidup tenang 🌿 Foto dan narasi : Bu Desi Mayasari | Redaktur : Pak Muflih Fathoniawan
Read MorePada hari Selasa, 4 Februari 2025, siswa jenjang Madya, Muda, dan Dewasa memiliki ragam aktivitas sesuai dengan nilai Panca Dharma SAYOGYA. Ketika datang ke sekolah, siswa laki-laki bergabung dengan forum kajian Ayah yang rutin setiap pagi dilakukan oleh para Ayah siswa SAYOGYA. Forum ayah Sayogya ini dipandu oleh Pak Mohammad Ferandy. Dalam forum ini, siswa dikembangkan menjadi pribadi yang tangguh dan berwawasan kepemimpinan keluarga. Aktivitas siswa berikutnya yakni outbound yang dipandu oleh Pak Fery Ghozali. Kegiatan outbound dilakukan sejalan dengan nilai Panca Dharma SAYOGYA yakni menghargai dan mengembangkan diri sejati. Siswa tak hanya dilatih fisik, namun juga diuji ketangkasannya. Siswa dipersiapkan untuk produktif di masa depan pada usia kerja nanti sebagai pribadi yang sehat jiwa raga dan bermental tangguh menghadapi segala tantangan. Usai outbound, siswa diajak untuk mensyukuri segala yang Allah hadirkan di lingkungan Beran Kidul sebagai tempat beraktivitas sehari-hari. Ternyata, di padukuhan Beran Kidul, banyak pohon rambutan yang berbuah matang dan perlu dipanen agar tidak mubadzir. Pamong dan siswa SAYOGYA berisiniatif untuk membantu warga Beran Kidul memanen rambutan, diantaranya pohon rambutan milik Pakdhe Mandar, Pakdhe Marjo dan beberapa milik warga lain. Sesuai dengan nilai Panca Dharma SAYOGYA, para siswa mensyukuri dan melestarikan pohon rambutan dengan memanennya sebagai makanan pemberian dari Allah. Dengan itu juga berguna membantu warga Beran Kidul untuk melestarikan sumber daya alam sekitar. Selain disyukuri untuk dimakan, para siswa juga menjual rambutan yang sudah dipanen di sekitar lapangan Pemda Sleman. Berjualan rambutan ini dilakukan untuk berbagi kebermanfaatan dan sebagai bekal aktivitas produktif bersama ke depannya. Foto dan Narasi : Pak Irfan Dary Nasution | Redaktur : Muflih Fathoniawan
Read MoreOleh : Elma Fitria Ini adalah materi pengantar yang saya sampaikan di Kulwap RB Dago, 29 Mei 2017 tentang Mengenal dan Menemukan Bakat Anak. Saya sampaikan prinsipnya terlebih daulu, karena penting untuk kita ingat sebagai pribadi dan sebagai orang tua. Prinsip-prinsip ini perlu kita review dalam setiap proses introspeksi kita sebagai orang tua. Ayah, Bunda, dan setiap anak, masing-masing adalah individu yang sepenuhnya berbeda. Jika ada 3 orang di rumah, maka ada 3 individu yang sepenuhnya berbeda.Oleh karena itu, perbedaan cara berpikir, cara merasa, cara berperilaku adalah hal yang pasti terjadi.Itulah sebabnya, sangat penting untuk mengenal diri sendiri, mengenal diri pasangan, dan mengenal diri anak. Jika kita paham pola berpikir-merasa-berperilaku masing-masing, maka : kita akan tahu bagaimana kita dapat menunjukkan sikap yang benar, bagaimana memberi respon yang tepat, dan bagaimana mendukung dengan cara yang paling dia butuhkan. Bunda jadi istri yang lebih baik bagi suami, dan jadi ibu yang lebih baik untuk anak-anak. Ayah jadi suami yang lebih baik bagi istri, dan jadi ayah yang lebih baik untuk anak-anak. Jika kita tidak benar-benar mengenal diri sendiri, diri pasangan, diri anak, maka : kita bisa salah bersikap, salah merespon, dan salah cara mendukung. Sulit jadi pasangan yang lebih baik, sulit jadi orangtua yang lebih baik Tentu saja, kita tidak bisa menganggap bahwa pasangan dan anak kita, akan berpikir seperti kita. Tentu saja, kita tidak bisa menyalahkan pasangan dan anak kita, ketika sikap mereka tidak bisa kita mengerti, semata karena kita sendiri-lah yang terlalu terbiasa dengan cara berpikir kita sendiri. Allah SWT sengaja menjadikan setiap manusia itu berbeda. Karena setiap manusia Allah beri tugas hidup (misi hidup) yang berbeda.Oleh karena itu, tidaklah tepat memasangkan sebuah mimpi kepada anak kita, semata karena kita-lah yang menginginkannya, tanpa kita lihat dulu sebenarnya anak sedang Allah arahkan menuju tugas hidup apa. Itu tidak adil untuk anak.Yang benar dan bijak adalah : dampingi anak sepenuh hati menuju misinya sendiri, yang sudah Allah titipkan untuknya. Bisa jadi sama dengan impian kita, bisa jadi juga beda. Dan ini sama sekali bukan masalah. Mengetahui bakat bukanlah untuk mengejar kesuksesan materi, bukan untuk mengejar ambisi. Memahami bakat adalah bagian dari mengenal diri dan memahami maksud spesifik penciptaan diri kita sebagai mahluk Allah SWT.Oleh karena itu, kita perlu menghadapi pemahaman bakat ini dengan sikap rendah hati, karena menyadari sepenuhnya bahwa :Apa adanya diri kita, pola berpikir-merasa-berperilaku kita adalah sesuatu yang diberikan oleh Allah, sekaligus bukti bahwa kita ini diciptakan oleh Allah dengan seperangkat kekuatan sekaligus kelemahan. Semua bakat itu netral. Bisa jadi positif jika digunakan untuk kebaikan, ini yang kita sebut kekuatan. Bisa juga malah destruktif, jika tidak tahu bagaimana mengalirkannya ke tempat yang tepat. Yang menentukan bakat itu jadi kekuatan adalah penerimaan yang ikhlas atas bakat itu, wawasan yang kaya atas berbagai macam bidang yang ada, serta karakter moral (moral compass) yang terjaga melalui pembiasaan ahlak yang baik. Sebagai orang tua, kita akan sangat terbantu untuk bisa mengenali bakat anak ketika kita mengamati anak, jika kedua orang tua sudah mengenal diri masing-masing dan mengaplikasikan pemahaman atas diri sendiri dalam konteks keluarga.Artinya, kita memahami diri kita dulu, mempraktekkan upaya mengelola kekuatan diri sendiri dulu, maka kemudian ikhtiar kita mengamati bakat anak dan membantu anak menguatkan bakatnya akan menjadi jauh lebih mudah. Memahami bakat anak adalah proses panjang. Jadi jalanilah dengan rileks dan positif. Tidak perlu buru-buru ingin tahu bakat anak sekarang juga. Tidak perlu mengejar apa-apa.Mengapa ? Karena tujuan akhirnya bukanlah “mengekploitasi” anak untuk “sukses” di bidang bakatnya.Tujuan akhir dari memahami bakat anak adalah anak akhirnya sampai menemukan misi unik penciptaan dirinya. Sampai akhirnya dia mengerti “Oh pantes ya saya orangnya begini, kekuatan saya ini, kelemahan saya ini, dan jalan hidup saya begini. Ternyata untuk tugas ini toh”. Bisa jadi ketika anak sampai di kesimpulan ini, kita sudah tidak ada di sisinya lagi. Dia sudah sepenuhnya sendiri. Tugas kita bukan menjamin anak sukses, tugas kita adalah memastikan hari hari sekarang bersama mereka adalah hari hari yang penuh dukungan, optimisme, kepercayaan, dan penerimaan atas apa adanya diri mereka.
Read MoreOleh : Elma Fitria Bagaimana hubungan antara memahami bakat anak dengan pertumbuhan Self Worth dan proses Self Discovery ? Self Worth berkaitan erat dengan Self Esteem dan Self Concept. “Our self-concept comes in childhood, from messages about how to treat me, how to treat others, and how I come to expect others to treat me.” Kalimat diatas disampaikan oleh Virginia Satir, seorang penulis dan psikoterapis dari Amerika Serikat, yang dikenal khususnya untuk pendekatannya dalam terapi keluarga dan pekerjaannya Systemic Constellations. Beliau secara luas dianggap sebagai “Ibu dari Terapi Keluarga” (sumber Virginia Satir). Jika diterjemahkan secara bebas artinya “Konsep diri kita terbentuk di masa kecil kita, dari pesan-pesan (yang konsisten berulang) tentang bagaimana cara memperlakukan saya, bagaimana cara memperlakukan orang lain, dan bagaimana saya berharap orang lain paham cara memperlakukan saya” Dengan begitu bisa kita simpulkan, bahwa Self Worth dan semua bagian dari Self Concept (Konsep Diri) terbentuk sejak masa kecil. Ini berarti bahwa pengasuhan kita pada anak-anak, cara kita memandang dan bicara pada mereka, cara kita menerima mereka sepenuhnya apa adanya, cara kita mendukungnya, cara kita membantunya mengelola hal yang kuat darinya, cara kita membantunya menyiasati kelemahannya, dst. adalah hal hal penting yang harus kita perhatikan sehingga anak tumbuh dengan self worth yang baik. Dari Yayasan Kita dan Buah Hati yang diasuh Bu Elly Risman, pemahaman tentang Self Worth kira kira seperti ini : Self Worth adalah penilaian diri anak terhadap dirinya sendiri. Apakah anak merasa dirinya berharga atau tidak. Anak yang memiliki rasa berharga tidak mudah guncang atau merasa jatuh meski diterpa berbagai masalah. Self Worthnya positif. Sebaliknya, jika Self Worth positif belum terbangun, ia mudah merasa terpuruk, terpojok, tersingkir, meski situasi tak terlalu buruk. Saya mengutip lagi dari Virginia Satir. Menurut beliau, ada 5 faktor yang mengindikasikan tingkat Self Esteem pada diri seseorang. 5 hal ini menjadi ciri yang perlu kita pantau pada anak, apakah kita sudah membantu 5 hal ini terbentuk dengan baik pada anak. Security. Merasa nyaman dan aman ada bersama orang lain dan lingkungannya. Tahu dan merasakan bahwa ada orang-orang yang bisa saya ajak berbagi apapun. Belongingness. Menjadi bagian atau terlibat dengan kelompok yang penting karena memberi makna tertentu. Personhood. Memahami siapa diri saya, apa peran saya, dan merasa nyaman dengan itu. Competence. Mengalami sukses dalam proyek, merasa puas dan bahagia dengan bagian/jatah tugas saya. Direction. Memiliki tujuan jelas, arah, pilihan-pilihan, peluang-peluang, dan memiliki kesadaran penuh untuk membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya angan-angan. Pada 5 indikator yang Virginia Satir sampaikan, ada Personhood yang menekankan pada anak mengenal dirinya dengan baik, ada juga Competence yang menekankan pada pentingnya anak pernah merasakan kesuksesan dalam mengerjakan proyek dengan baik, serta Direction yang menekankan pada tujuan dan arah yang jelas serta mampu membaca pilihan dan peluang. Ini semua terkait bakat kuat anak dan bakat lemah anak. Dari penjelasan di atas, sangat jelas bahwa pertumbuhan self worth anak paling utama dipengaruhi oleh pengasuhan orang tuanya, serta penerimaan orang tua atas bakat kuat dan bakat lemah anaknya. Kenyataannya, salah satu pihak utama yang sering meredupkan self worth anak, adalah orang tua sendiri. Yaitu orang tua yang tidak mau menerima apa adanya diri anak, dan menuntut diri anak menjadi berbeda, tidak sesuai bakat kuatnya. Anak dipaksa menjadi orang lain, yang sesuai dengan pemikiran orang tuanya. Jika demikian kejadiannya, bagaimana mungkin anak akan menemukan (discover) siapa sebenarnya diri mereka. Oleh karena itu, maka proses self discovery nya jelas akan terhambat. Contoh nyatanya seperti ini : Sejak anak kecil, dia menunjukkan minat tinggi terhadap seni. Aktivitas dia seputar menggambar menunjukkan 5 ciri bakat yang tadi dijelaskan. Tapi orang tua punya impian pribadi yang dulu tak tergapai : menjadi dokter. Oleh karena itu, orang tua mendorong anak menjadi dokter, apalagi anaknya ini menonjol secara akademik di sekolah. Orang tua mengabaikan semua pertanda bahwa anak punya minat sendiri, punya kekuatan dalam hal tertentu, dan lemah di hal hal tertentu. Saat ini, orang tua hanya fokus pada impiannya sendiri. Sekarang, saya ingin mengajak Ayah Bunda membayangkan situasi ini. Rasanya tak jarang kita temui situasi mirip mirip seperti ini. Dalam keluarga yang seperti ini, anak akan kesulitan membangun self worth-nya sendiri. Justru rasa berharga dirinya jadi disandingkan dengan label : masuk jurusan yang dipilih orang tuanya. Padahal apa adanya diri anak itu sudah berharga. Dari lahir, tanpa embel embel apapun, anak itu sudah berharga. Anak itu kan titipan Tuhan. Dipercayakan pada orang tua yang ini. Itulah hadiah paling berharga, karena kita dipercaya Tuhan. Jika yang terjadi malah situasi seperti ini, anak tidak akan merasa dirinya apa adanya itu berharga. dia akan selalu mencari pemenuhan self worthnya dari luar dirinya, dari label di luar dirinya, dan semakin menjauhkan dirinya dari dirinya yang asli dan otentik. Demikian gambaran hubungan antara memahami bakat dengan Self Worth dan Self Discovery. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk sepenuh hati menerima anak apa adanya, dan berusaha sungguh sungguh mengenal diri anak. Mengenal kekuatan dan kelemahan anak, sehingga penerimaan yang muncul adalah penerimaan dengan dukungan yang menguatkan bakat kuatnya, dan menerima serta membantu menyiasati bakat lemahnya. Semoga bermanfaat. Selamat mengenali diri anak Anda dengan lebih dalam
Read More“Putra putri Indonesia yang telah berusia 15 tahun sudah harus mampu melakukan seluruh peran tanggungjawab orang dewasa”. Demikian bunyi kalimat dalam UU Pendidikan dan Pengajaran tahun 1951. Jadi sebenarnya Indonesia sudah mengatur tentang kedewasaan bahkan di usia berapa sebenarnya anak anak sudah tidak bisa dikategorikan lagi sebagai anak anak, dan semestinya sudah pantas disebut dewasa. Dilihat dari hal ini, sebenarnya UU sudah mengatur standar kepemudaan dengan benar, memiliki kualitas aqil baligh di usia 15 tahun. 4 mazhab ulama telah menyepakati bahwa paling lambat usia 15 tahun seseorang harus sudah mukallaf. Ini artinya deadline aqil baligh adalah 15 tahun, yang umumnya terjadi aqil sudah mulai di usia 12-13 tahun. Dengan begitu, kalaulah ada fase transisi, dalam Islam, fase itu itu maksimal 3 tahun, yaitu dari usia 12 tahun ke 15 tahun. Dalam Islam, jika pada usia 12 tahun seseorang sudah baligh, karena belum 15 tahun, jika ingin ikut perang tetap harus izin orang tua dulu. Sebenarnya pemuda Indonesia dulu pun sudah matang di usia 15 tahun. Kita bisa lihat dari sejarah Sumpah Pemuda. Dalam Sumpah Pemuda kita bisa melihat bagaimana kualitas kepemudaan saat itu. Dalam kalimat “Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”, sesungguhnya tercermin kedewasaan para pemuda saat itu. Mereka punya kemampuan orang dewasa yang bahkan anggota MPR DPR sekarang pun belum tentu punya, yaitu kemampuan syuroo. Pemuda yang hadir di Sumpah Pemuda itu mayoritas adalah Jong Java, berarti mereka berbahasa Jawa. Andaikan pengambilan keputusan dilakukan secara voting, sudah pasti bukanlah bahasa Melayu yang dijadikan sebagai bahasa Indonesia. Dalam kalimat itu bahasa Indonesia juga disebut sebagai bahasa persatuan. Artinya semua pemuda yang hadir mengakui keberagaman bahasa daerah di Indonesia dan tidak menyebut sebauh bahasa sebagai satu satunya bahasa. Mereka punya kemampuan syuroo, bukan voting. Syuroo itu buth kemampuan Collective Thinking. Collective Thinking ini sebuah kemampuan yang mulai jarang ada sekarang. Pendidikan kita banyak yang menekankan pada critical thinking saja. Jangan salah, Critical Thinking itu bagus untuk sains, tapi butuh Collective thinking itu bagus untuk sosial. Dunia sintesis dan sosial itu didasarkan pada kemampuan collective thinking. Sebegitu bedanya kualitas kepemudaan dahulu dibandingkan dengan kualitas keremajaan sekarang. Kita bisa melihat bedanya anak usia 15 tahun dahulu dan sekarang. Anak anak di tahun 50-an, usia 15 tahun “Bunda, ini ada sedikit uang untuk beli sirih”, sementara sekarang orang usia 20 tahun masih bisa bertanya “Ayah, uang kuliah mana ?” Sekarang lulusan S1 pun masih culun. Menurut seorang dosen ITB kepada Ustadz Adriano Rusfi, sepertinya batas aqil itu bukan di 25 tahun sekarang, tampaknya geser ke usia 27 tahun. Ini mengacu pada pengalaman beliau sendiri, bahkan mahasiswa S3 pun masih ada yang harus dicek progress tesisnya oleh dosen pembimbingnya. Bahkan di UI pun masih ada mahasiswa yang ketika ujian tesis masih didampingi orang tuanya. Sementara itu anak anak baligh semakin cepat. Sekarang baligh itu sudah banyak yang mulai di usia 9 tahun. Jadi bisa dilihat bahwa baligh semakin cepat, sementara aqil semakin lambat. Upaya menumbuhkan aqil itu bukan semata urusan ibadah mahdhah dan nafilah saja. Sayangnya justru inilah yang banyak terjadi, karena salah kaprah. Banyak anak kita sekarang dididik taklif syar’i tapi tidak dididik jadi mukallaf. Diajari shaum, shalat, menutup aurat, tahfidz, tapi kemudian ikhtiar jadi mukallafnya belum dididik. Taklif adalah kesiapan memikul beban, maka menjadi Mukallaf artinya siap memikul beban. Jika ditarik sampai kesini, kita jadi mengerti mengapa ada kasus anak berjilbab tapi hamil di luar nikah. Ya karena ada pendidikan salah kaprah, karena memakaikan jilbab pada anak tidak serta merta berarti dia otomatis mampu memikul tanggungjawab syar’i. Ini seperti kita mengajari teknik angkat barbel, tapi otot anak tidak disiapkan. Kalau dipaksakan, pasti ototnya patah. Sekarang generasi yang patah seperti ini banyak sekali jumlahnya. Waktu SD disuruh jadi anak baik dan mereka menurut, pas SMP jadi seperti anak hilang dan orang tua pun jadi bingung. Anak anak itu telah tumbuh menjadi remaja yang terjebak dalam kebingungan identitas dan transisi yang penuh kegalauan, bahkan terbawa oleh fenomena masalah keremajaan yang melingkupinya. Remaja adalah sebuah fenomena yang harus diakui memang ada. Namun bukan sebagai sebuah kemestian. Artinya bukan harus ada, justru ketika faktanya memang ada fenomena remaja, maka disitulah masalahnya, karena semestinya masa remaja itu tidak perlu ada. Mari berbenah diri dan luruskan tujuan pengasuhan kita. Pancangkan niat dan teguhkan arah bahtera rumah tangga kita, sehingga tujuan kita adalah mendampingi dan menumbuhkan anak siap menjadi aqil ketika ia memasuki gerbang balighnya. Masih panjang perjalanan kita, Bismillaah …
Read More
Recent Comments