menanam kacang tanah hingga mengolah sampai menjadi kue

Taman Sayogya, 12 Februari 2025

Sejak zaman SD kita sudah dilatih untuk menanam kacang tanah dengan bahan dan cara yang sederhana. Hanya butuh cup plastik dan kapas basah sebagai media tanamnya.

Senang sekali rasanya ketika biji kacang tanah mulai berkecambah lalu muncul beberapa daun. Tapi sayang proses itu tidak pernah berlanjut sampai menjadi tanaman kacang tanah dewasa, berbunga, dan panen kacang tanah. Dan menjadi misteri sepanjang masa, sampai menjadi orang dewasa kita tidak pernah tahu bagaimana bentuk tanaman kacang tanah dewasa. Hiks, sediiih 😢

Mari putus siklus ini. Mari kita ajarkan anak-anak kita belajar menanam sampai tuntas. From farm to table. Anak-anak perlu menyaksikan dan terlibat secara langsung proses panjang sebuah tanaman ditumbuhkan sama Allah, dirawat oleh manusia sampai akhirnya terhidang di meja makan sebagai suplai energi untuk manusia beribadah dan beraktivitas.

Biji kacang yang mulai disemai di bulan Rabiul Akhir sudah bisa dipanen 3 bulan kemudian. Anak-anak dipandu secara intens oleh Bu Tyas sejak persiapan lahan, benih, sampai proses panen.

Setelah dipanen, tempo hari sudah diolah dengan cara direbus dan sudah disajikan untuk berbagai agenda: dimakan bersama, disajikan untuk orangtua ketika Progress Discussion, disajikan untuk tamu yang berkunjung ke SAYOGYA, disajikan untuk orangtua ketika agenda Orientasi di awal semester.

Sisanya dikeringkan untuk diolah menjadi kue kacang 😍🤩

Ide membuat kue kacang muncul karena sebentar lagi Lebaran 😍😅 eh Ramadhan aja belum. Hihihi, astaghfirullah 🙈

Dalam proses pembuatannya, kami bekerjasama dengan salah satu orangtua murid.

Beliau adalah Budhe Suratmi atau lebih kami kenal dengan Budhe Yanto. Beliau adalah salah satu warga Padukuhan Beran Kidul, dimana SAYOGYA ini berada. Putra beliau saat ini adalah siswa jenjang Muda (setara SMP).

Kue kacang yang mungkin sebagian besar anak-anak selama ini langsung ‘hap’ menyantap, kali ini mereka dilatih untuk untuk mengikuti prosesnya dari awal.

Biji kacang tanah yang sudah kering disangrai terlebih dahulu dengan wajan tanah liat. Setelah itu, kulit arinya dilepas. Di proses ini, siswa Semai Mula distimulasi untuk belajar motorik halus untuk mengelupas kulit ari biji kacang tanah. Untuk memisahkan biji dan kulit ari yang sudah dikelupas, anak-anak menyaksikan sebuah proses ‘napeni’ yang dilakukan oleh pamong (Jawa-red). Mereka pun sangat excited karena kulit ari yang begitu ringan beterbangan dan biji-biji kacang tanah berlompatan.

Proses selanjutnya adalah menghaluskan biji kacang tanah, menimbang bahan, membuat adonan, membentuk adonan. Lagi-lagi motorik halus anak-anak diasah.

Anak-anak juga belajar sains dari proses memanggang.

Aroma harum sudah menguar dari dalam oven. Wangiii 😍🤩

Setelah shalat Dzuhur dan makan siang, anak-anak pun mencicip hasil kerjasama kita bersama. Enaaak bangeeet 😍🥰

Buka PO kue kacang nggak ya? 😆😆

Tulisan oleh : Desi Mayasari
Foto oleh : Guru-guru Semai dan Mula SAYOGYA | Redaktur konten : Muflih Fathoniawan

Leave a Comment