Selama beberapa tahun ke belakang, agenda Pasar Jumuah maupun Pasar SAYOGYA rutin dilaksanakan sebulan sekali di pekan pertama setiap bulan. Diberi nama Pasar Jumuah karena pasarannya dibuka setiap hari Jumat. Beralih nama menjadi Pasar SAYOGYA karena dihelat di area SAYOGYA, di hari selain Jumat. Sejak peluncuran pertamanya sekitar 3 tahun yang lalu, keberadaan Pasar Jumuah dan Pasar SAYOGYA ini adalah sebagai ajang berkumpulnya keluarga SAYOGYA sembari menampilkan produk keluarga. Ada aneka makanan, minuman, hasta karya yang dipersiapkan oleh masing-masing keluarga. Jelas disini dibutuhkan kerjasama tim di masing-masing keluarga, mulai dari perencanaan produk, persiapan, eksekusi, sampai packaging, pemasaran, dan penjualan. Sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Begitulah keseharian kami dalam menjalankan kurikulum SAYOGYA. Dari satu kegiatan sebenarnya kita sedang mempelajari banyak hal, mulai dari belajar Kewirausahaan dan Kepemimpinan, Sinergi Keluarga, Pengembangan Minat dan Bakat, Aqidah Islam, dan Syariah Ibadah Muamalah. Ini sudah mencakup 5 relasi penting dalam kehidupan: terhubung dengan Allah, keluarga, diri, masyarakat, dan alam. Bayangkan dari kegiatan pasaran ini, anak-anak belajar bagaimana proses persiapan produk sampai transaksi jual beli terjadi. Di tengah persiapannya antaranggota keluarga mesti sigap dan kompak untuk bekerjasama sehingga sebuah produk tersaji. Setiap anggota keluarga akan berbagi peran. Sehingga anak-anak akan merasakan bagaimana performa mereka melakukan tugas ini dan itu. Yang tak kalah penting mereka pelajari adalah konsep rezeki, bahwa Allah sudah menjamin rezeki setiap makhluk dan berjualan ini adalah salah satu ikhtiar untuk mendapatkan rezeki dan ridho dari Allah. Setelah 3 tahun berjalan, surprisingly Allah berikan rejeki sebuah rumah warga yang bisa disewa. Akhirnya rumah itu digunakan sebagai rumah tinggal salah satu Pamong SAYOGYA dan sebagian ruangannya disulap menjadi Kedai SAYOGYA 😍🤩 Persis sehari sebelum Ramadhan, Kedai ini dibuka 🤩🥳 Ada aneka makanan dan minuman dari keluarga SAYOGYA yang tersaji. Ada pisang goreng, pempek, bakpau labu kuning, puding susu kurma, mochi kurma, aneka gorengan, pentol kriwil, dimsum, bakso, es timun, es teler, dan masih banyak lagi. Semuanya dibuat handmade dan homemade oleh keluarga SAYOGYA 🤗👍Setiap keluarga yang datang melakukan transaksi pembelian aneka makanan khas produk keluarga, saling cicip dan saling mengapresiasi. Hari-hari setelah itu, Kedai bukan hanya dibuka untuk keluarga SAYOGYA saja, tapi dibuka juga untuk umum 🤩🤩Warga datang silih berganti mengunjungi dan bertransaksi di Kedai SAYOGYA Bejo Barokah. Ya, kami beri nama Bejo Barokah karena letaknya persis di perbatasan antara Padukuhan Beran Kidul dan Jomblang. Sehingga nama Bejo adalah singkatan dari Beran-Jomblang. Dan semoga keberadaannya membawa keberuntungan dan barokah (kebaikan, kebermanfaatan dan keberkahan yang diridhoi oleh Allah-red). Cari takjil selama Ramadhan? Silakan datang ke Kedai 😍👍 Insya Allah selepas Ramadhan, Kedai akan buka dari pagi sampai malam dengan menu yang beragam 😍🤩 Penasaran? Langsung meluncur ke Kedai SAYOGYA Bejo Barokah yaaa Selain transaksi, boleh juga kalau mau transit dan ngobrol-ngobrol di Kedai 🤗👍Ada kursi jadul dan suasana asri khas padukuhan 🥰 Lokasi Kedai Sayogya Bejo Barokah : https://maps.app.goo.gl/E7WPyMgKtCp4bgmr6?g_st=com.google.maps.preview.copy Penulis : Desi MayasariRedaktur : Muflih Fathoniawan
Read More“Itu kemangi!” ujar Wima bersemangat saat memeriksa semak-semak di sekitarnya. “Ah, sudah layu,” kata siswi Mula (jenjang usia 6-8 tahun) Sekolah Alam Yogyakarta ini begitu memeriksa tanaman itu lekat-lekat. Wima segera berjalan mencari-cari lagi. “Ah, ini kemangi lagi,” kata Wima lalu memetik rezeki yang baru ia temukan.Meramban, itulah pelajaran untuk siswa-siswa Sayogya kali ini. Sebelum berkegiatan, Pak Fery, pamong Sayogya, menjelaskan kepada anak-anak tentang meramban. “Istilah ngeramban itu dulunya dipakai untuk kegiatan mencari dedaunan pakan ternak saat hujan. Ternak tidak mau makan rumput yang basah. Tapi kalau daun yang basah, sapi kambing masih mau makan. Sekarang, istilah ngeramban dipakai untuk kegiatan mencari bahan pangan di sekitar kita. Bahasa Inggrisnya foraging,” kata Pak Fery kepada anak-anak. Gerimis hujan tidak menghentikan aktivitas meramban di luar ruangan sore itu. Justru hujan meningkatkan antusiasme anak-anak untuk mengeksplorasi. Jangan sampai anak belajar membenci hujan. Bukankah hujan itu rezeki penuh keberkahan? Di masa modern ini, konsep rezeki seringkali disempitkan menjadi uang. Banyak uang berarti banyak rezeki. Konsep ini terbawa ke ranah pendidikan, anak-anak bersekolah dengan tujuan agar bisa mencari uang begitu lulus kelak. Jika uang yang dihasilkan sedikit, berarti rezekinya sempit. Jebakan konsep rezeki yang berpusat pada uang bisa berakibat fatal. Misalnya menimbulkan trauma finansial yang bisa dibawa hingga dewasa kelak. Ada yang gelisah jika jumlah uang di rekeningnya sudah di bawah nominal tertentu (yang sebenarnya jumlah tersebut masih tergolong lebih dari cukup untuk menopang hidupnya dan keluarga selama beberapa bulan). Konsep rezeki yang uangsentris ini juga bisa membuat kita tidak menyadari berbagai bentuk rezeki lain yang sebenarnya Allah berikan kepada kita. Meramban jadi satu cara untuk anak belajar meluaskan konsep rezeki. Anak belajar menjemput rezeki yang sudah Allah hadirkan di sekitarnya. Di Beran Kidul–padukuhan tempat Sayogya berdiri, terdapat banyak tanaman yang bisa dijadikan bahan pangan. Dalam satu diskusi, saya bertanya kepada Bu Desi, pamong Sayogya, “Apa saja tanaman yang bisa jadi objek meramban ini?” Bu Desi menuliskan daftarnya, baik yang bisa diambil daunnya, bunganya, batangnya, hingga rempah. Totalnya mencapai 66 jenis. “Masih banyak yang belum tertulis di sini sebenarnya,” kata Bu Desi. Untuk bisa mengenali rezeki-rezeki yang Allah hamparkan di sekitar merekalah pelajaran meramban ini diberikan. “Jika kita tidak mengenalinya, kita tidak akan tahu mana saja tanaman yang bisa kita konsumsi,” kata Pak Fery pada anak-anak. Bagi saya sendiri, ada kenikmatan tersendiri saat memperhatikan anak-anak ini mengeksplorasi alam di sekitar mereka. Beran Kidul ini tempat mereka berkegiatan sehari-hari. Tempat yang sudah biasa mereka lalui. Namun dengan memberi gagasan pada mereka untuk mencari tanaman-tanaman yang bisa mereka manfaatkan, pengalaman mereka di lingkungan ini menjadi terasa baru. Meramban jadi permainan yang seru buat mereka. Mencari-cari tanaman mana saja yang bisa mereka konsumsi, mana saja yang bisa mereka pakai. Proses mencarinya jadi kebahagiaan tersendiri untuk mereka. Saat mendapatkannya, terasa ada kepuasan yang hadir pada mereka. Ditambah lagi saat perjalanan pulang, ada kebanggaan karena membawa hasil bumi dengan tangan mereka sendiri–membangun keberhargaan diri yang positif di dalam diri mereka. Mendidik anak-anak adalah proses memberikan bekal untuk membawa mereka bahagia. Bahagia di dunia, bahagia di akhirat. Meramban mengajarkan anak bahagia tahu tanaman-tanaman yang bisa ia manfaatkan. Bahagia di dunia. Juga mensyukuri rezeki yang Allah berikan di sekitarnya. Bekal bahagia di akhirat. Bahagia itu butuh ilmu, tapi tidak pernah rumit. Kalau kata orang, bahagia itu sederhana. Sesederhana menyadari betapa berlimpahnya rezeki yang Allah tebarkan. Seperti Wima, yang menemukan kebahagiaan saat menemukan kemangi yang bisa ia petik. Penulis : Mohammad FerandyRedaktur : Muflih Fathoniawan
Read MorePepatah Jawa mengatakan, “Dumadining sira iku lantaran anane bapa biyung ira”, yang berarti anak harus menghormati orang tua karena orang tua yang telah membesarkannya. Sudah menjadi pemahaman umum bahwa anak perlu berbakti kepada orangtua, anak harus menghormati orangtua karena orangtua telah membesarkan anak-anak. Namun situasi tersebut tidak lantas ‘abrakadabra’ terjadi. Ada sebuah proses panjang yang perlu dilalui agar anak bisa menghormati orangtua. Sebelum anak menerima orangtua–sehingga mereka mau patuh dan hormati kepada orangtua– orangtua perlu menerima anak terlebih dahulu. Anak perlu merasakan wujud nyata limpahan kasih sayang dari orangtuanya. Anak-anak yang diterima oleh orangtuanya akan tumbuh menjadi anak yang bahagia dan percaya diri. Anak-anak yang dicintai seratus persen tanpa syarat oleh orangtua akan semakin yakin menapaki hari-hari dalam kehidupan sang anak. Jelajah bersama Ayah pagi sampai siang hari Sabtu lalu adalah sebuah potret nyata sebuah ikhtiar relasi hangat antara ayah dan anak ❤️ Anak-anak merasa bahagia ketika tangan mungil mereka digandeng oleh tangan kekar ayah. Anak-anak merasa dilindungi karena lengan Ayah dilingkarkan ke bahu mereka. Mereka merasa aman dan nyaman di dekat Ayah 🥰 Betapa usapan tangan, pelukan, ciuman yang hangat dari Ayah ini sangat berharga dalam masa pertumbuhan anak dan persiapan menyambut kedewasaan suatu saat nanti. Selamat melimpahkan kasih sayang seratus persen ya, para Ayah 🫶🏼 Penulis : Desi MayasariRedaktur : Muflih Fathoniawan
Read MoreSebagai bulan ke 9 dalam kalender Hijriyah, kehadiran Ramadhan selalu dinanti-nanti 😍🤩 Suasananya, rutinitasnya, aktivitas ibadahnya, semuanya terasa ‘ngangenin’. Sejak bulan Rajab kita semua sudah berdoa semoga kita bisa melewati Sya’ban dan Allah sampaikan perjalanan kita di bulan Ramadhan 😍🥹 Tak terkecuali anak-anak. Merekapun senang menyambut datangnya bulan Ramadhan. Walaupun di hari-hari Ramadhan mereka harus berjuang untuk bangun sahur, menahan lapar, dahaga, dan menjaga perilaku sejak subuh sampai maghrib. Namun perasaan bahagia dengan suasana Ramadhan itu tak tergantikan ❤️ Sejak 2 pekan yang lalu, siswa Semai Mula sudah diajak oleh Bu Tyas untuk menghidupkan suasana Ramadhan dengan membuat aneka display bertema Ramadhan. Bahannya pun mudah, dari kertas dan barang-barang bekas yang bisa digunakan kembali. Anak-anak pun antusias mengerjakannya. Bahkan ada beberapa dari mereka yang juga terinspirasi untuk membuatnya juga di rumah keluarga mereka. Wuaaahhh 😍🤩 Selamat menyambut datangnya bulan Ramadhan yang mulia. Semoga Allah meridhoi setiap langkah baik dan ibadah yang kita lakukan 😍🥰 Penulis : Desi MayasariRedaktur : Muflih Fathoniawan
Read MorePagi yang berawan tampak semakin cerah, sejak selepas subuh tadi Bu Tyas telah asyik “ngulik” sawah. Begitu keseharian rutin Bu Tyas di pagi hari. Lantas siswa-siswi kelas Madya, Muda, & Dewasa turut serta menyusul sejak pukul 07.00, bersama-sama turun ke tanah basah. Pagi ini saatnya menebar dolomit dan kotoran hewan di setiap bedengan yang telah berpekan-pekan Bu Tyas garap. Bu Tyas menjelaskan, bahwa dolomit berfungsi membantu tanah menurunkan kadar asamnya. Di musim hujan, tanah cenderung lebih asam. Jika tanah terlalu asam, riskan lekas ditumbuhi jamur. Adapun kotoran hewan berfungsi sebagai pupuk alami. Selepas menggarap sawah, Bu Tyas mengajak para siswa untuk menepi dan mensyukuri pagi dengan makan bersama di warung soto pinggir sawah. Sungguh nikmat kebersamaan, hangat dan tak terlupakan. Rabu, 20 Sya’ban 1446 H.Penulis : Aprily Anggia CS (Pamong Sayogya)Redaktur : Muflih Fathoniawan
Read MoreKeluarga menjadi pilar penting dalam pendidikan di Sayogya. Turut serta mendidik siswa agar terhubung, menyadari, bersyukur serta beramal sebaik-baiknya di dalam keluarga merupakan salah satu ikhtiar Sayogya. Maka, kegiatan dengan topik keluarga rutin dilakukan setiap pekan bersama para siswa, termasuk Kajian Keluarga. Saat ini, ada fenomena seorang anak tidak tahu nama kakek-neneknya karena terbiasa memanggil dengan panggilan seperti “Eyang/Mbah” saja. Terlebih jika dalam keluarga inti, kisah tentang Kakek-Nenek jarang dituturkan oleh orangtua. Sayangnya, anak-anak menjadi tidak terhubung kepada asal-muasalnya. Maka, dua pekan ini, pada jenjang kelas Madya, Muda, dan Dewasa, pembahasan tentang keluarga telah berlanjut kepada sejarah dan latar belakang Kakek-Nenek dari masing-masing orangtua. Siswa tak hanya diminta untuk mencari informasi terkait nama lengkap Kakek-Neneknya, namun juga terkait kesehariannya, profesi atau keahliannya, karakter/sifatnya, kebaikan apa saja yang dapat dipelajari, hingga nilai-nilai apa yang diperjuangkan. Kemudian para siswa diminta untuk bercerita tentang informasi yang didapatkan, sementara teman-temannya menyimak. Akhirnya, mereka dapat mengambil pelajaran dari sosok yang dekat dengan orangtua mereka, yaitu Kakek-Nenek. Siswa tak hanya belajar soal nasab, tapi juga hasab (karakter positif/mulia yang diturunkan) dari akar asal-usul mereka. Semoga ini dapat menjadi bekal dalam kehidupan anak, untuk tetap menjadi manusia yang beradab dan bermanfaat. Sya’ban 1446 HTulisan: Aprily Anggia CS (Pamong Sayogya)Redaktur : Muflih Fathoniawan
Read MoreAktivitas memasak menjadi aktivitas di hari Jumat bagi siswa Semai dan Mula. Oleh karena itu, setiap hari Jumat para siswa tidak perlu membawa bekal makan siang dari rumah. Dan setiap Jumat pekan kedua setiap bulan para pamong (guru) bekerjasama dengan siswa menyajikan masakan yang sebagiannya dibawa ke masjid untuk sajian para jamaah shalat Jumat di Masjid Darussalam yang lokasinya satu padukuhan dengan SAYOGYA. Jumat pekan kemarin menu yang dibuat adalah lontong opor yang dibungkus dengan daun jati. Para siswa menyambut peran mereka untuk mengupas kulit telur, menyuwir ayam, menghaluskan bawang dan cabe untuk dijadikan sambal, memeras kelapa untuk dijadikan santan, memotong sayuran. Selebihnya dilakukan oleh pamong. Kontribusi anak-anak untuk menghidangkan masakan untuk warga sekolah dan masyarakat ini begitu berharga. Mereka pun melakukan dengan senang hati, sambil berceloteh riang, sampai-sampai harus diingatkan, “Sssttt, kalau sedang mengupas telur dan menyuwir ayam jangan terlalu banyak bicara, nanti air liurnya jadi melompat ke makanan. Hehehe”. Mendengar nasihat itu, mereka pun mengurangi intensitas bicara mereka dan tetap semangat menuntaskan pekerjaan mereka. Alhamdulillaah jam 11.20 semua masakan sudah siap dibawa ke masjid. Sepulangnya dari masjid, keranjang yang dibawa untuk membawa makanan sudah kosong. Diayunkannya keranjang itu sambil berteriak, “Alhamdulillaah sudah habis. Lariiis!” Semoga kebahagiaan kecil ini terpatri dalam diri anak-anak dan terus membarakan semangat mereka untuk terus berbagi sampai mereka dewasa kelak ❤️
Read MoreRumah menjadi tempat berkumpulnya anggota keluarga. Di tempat inilah keluarga menciptakan ruang kepercayaan, ruang kehangatan, ruang ekspresi, ruang tumbuh setiap penghuninya. Di dalam rumah, anggota keluarga saling bercengkrama, saling mengalirkan pikiran perasaan, saling bekerjasama dan bersinergi. Dalam bentuk fisik, rumah yang nyaman adalah rumah yang bersih, rapi, dan semua bagiannya terurus. Jika ada yang berantakan, sudah semestinya dirapikan kembali. Jika ada yang rusak, sudah semestinya diperbaiki. Untuk melatih kepekaan itu, siswa Muda dan Dewasa dilatih ilmu-ilmu dasar pertukangan. Jumat malam pekan kemarin, ketika Mabit/menginap di sekolah, mereka diajak untuk memperbaiki tembok dan pintu yang bolong. Sebelum eksekusi, siswa Muda dan Dewasa, beserta Madya diajak berdiskusi Pak Fery tentang profesi tukang. Beliau berkata bahwa profesi tukang adalah profesi yang paling tua. Ini sudah ada dari jaman leluhur dengan cara yang paling tradisional. Saat ini mungkin banyak profesi-profesi baru, tapi banyak yang masih bisa disebut sebagai tukang. “Misalnya, orang yang suka membuat video. Namanya apa?”, tanya Pak Fery malam itu kepada para siswa. “Videografer”, semuanya serentak menjawab. “Iya, betul. Mereka adalah tukang video”, lanjut Pak Fery. Setelah itu Pak Fery menantang siswa Madya Muda Dewasa untuk berfikir dan berefleksi, kira-kira dengan keahlian yang mereka punya, mereka akan menjadi tukang apa? Muncullah banyak ide dari siswa. Ada yang mau jadi tukang masak, tukang ngarit, tukang mancing, tukang ngurus sapi, dan masih banyak lagi! Bahkan ada yang mau jadi tukang pungut, karena sang anak suka mengumpulkan barang 😄😆 Puncak kelakar adalah ketika salah satu anak tertarik pada dunia IT, dia terpikir untuk jadi tukang coding. Terdengar lucu ketika dilafalkan dengan logat Sunda menjadi Kang Coding 😆😆 Suasana malam itu menjadi hangat setelah mati listrik dan hujan deras. Setelah listrik menyala, pekerjaan pertukangan pun dilakukan. Selain butuh cahaya, pekerjaan pertukangan malam itu membutuhkan mesin gerinda. Walhasil, malam itu siswa Muda dan Dewasa (setara SMP dan SMA) saling bantu dipandu Pak Fery untuk menambal dinding dan pintu yang bolong. Karena sudah mendekati larut malam pekerjaan dilanjutkan keesokan paginya. Mengajak generasi muda untuk peka di zaman sekarang menjadi tantangan yang berat di tengah tingginya atensi mereka terhadap gadget. Maka, di SAYOGYA anak-anak dilatih untuk sering terhubung dengan realita natural yang ada di sekitar mereka untuk menarik kepekaan dan kepedulian mereka terhadap lingkungan sekitarnya. Selain itu dengan senantiasa terhubung dengan realita natural, para siswa akan terbiasa melakukan beragam aktivitas yang membuat mereka semakin mengenal dirinya. Nah, kira-kira Anda sudah dikenal sebagai tukang apa? 😍🤩 Penulis : Desi MayasariRedaktur : Muflih Fathoniawan
Read MoreSejak 4 pekan yang lalu siswa Semai dan Mula mulai belajar bacaan shalat bersama Pak Didi. Setiap pekan ada kalimat dalam doa iftitah yang dilafalkan dan dihafalkan. Karena usia di jenjang Semai dan Mula beragam maka praktis kemampuan setiap anak menjadi berbeda. Untuk menstimulasi dan melatih kemampuan anak-anak berlatih melafalkan dia iftitah, di luar. Sesi Pak Didi memberikan kesempatan beramal sholeh kepada beberapa siswa Mula yang sudah terlebih dahulu hafal untuk membimbing teman/adik yang belum hafal. Maka, terciptalah momen interaksi antara kakak dengan adik yang usianya tidak terlalu jauh dalam belajar melafalkan doa shalat. Kakak memberikan arahan ke adik sebagaimana Pak Didi memberikan arahan kepada semua siswa. Adik juga berlatih memperhatikan dan mengikuti arahan kakak. Momen mengarahkan dan diarahkan ini dilakukan di luar sesi belajar di kelas. Ada yang melakukannya saat istirahat ataupun sambil menunggu giliran. Momen indah akur dan saling dukungnya kakak dan adik ini adalah momen yang membahagiakan dan perlu diciptakan. Memang dalam konteks ini, anak-anak sedang belajar diniyah terkait relasi dengan Allah. Namun dari momen belajar tersebut, anak-anak belajar bagaimana berinteraksi yang hangat antara kakak dengan adik ❤️ Anak 7-9 tahun yang diberikan kepercayaan untuk melakukan tugas tertentu dan berhasil akan merasa naik harga diri dan kepercayaan dirinya. Semoga anak-anak kita semakin memahami bahwa untuk bisa berharga dan bermanfaat untuk hidupnya tidak harus menunggu menjadi orang dewasa. Sejak kecil juga sudah bisa dilatih bermanfaat. Dengan demikian, hidup mereka akan terus merasa berharga ❤️❤️ Narasi : Desi Mayasari | Redaktur : Muflih Fathoniawan
Read MoreKami semua merasa sangat bersyukur karena keberadaan SAYOGYA ini berada di tengah lingkungan padukuhan yang lengkap fasilitasnya ❤️ Masjid Darussalaam salah satunya. Tempat ini menjadi tempat berkumpul semua warga sekolah dan warga masyarakat untuk kembali terhubung dengan Allah. Semua pamong dan siswa berangkat ke masjid untuk menunaikan shalat Dzuhur, tak terkecuali siswa Semai dan Mula yang masih berusia 4-9 tahun. Bagi anak Semai dan Mula rutinitas shalat Dzuhur berjamaah ini memantik sebuah antusiasme untuk terhubung dengan masjid. Gerakan dan bacaan shalat perlahan dipelajari baik bersama orangtua di rumah dan pamong/guru di sekolah. Di sekolah, anak-anak dilatih secara intensif oleh Pak Didi sebagai guru diniyah agar anak-anak perlahan-lahan tahu dan paham bacaan/doa shalat. Bismillaah, semoga Allah meridhoi ikhtiar para pamong dan siswa. Semoga kualitas shalat anak-anak juga semakin baik 🤲 Narasi oleh Desi Mayasari | Redaktur : Muflih Fathoniawan
Read More
Recent Comments