Rumah menjadi tempat berkumpulnya anggota keluarga. Di tempat inilah keluarga menciptakan ruang kepercayaan, ruang kehangatan, ruang ekspresi, ruang tumbuh setiap penghuninya.
Di dalam rumah, anggota keluarga saling bercengkrama, saling mengalirkan pikiran perasaan, saling bekerjasama dan bersinergi. Dalam bentuk fisik, rumah yang nyaman adalah rumah yang bersih, rapi, dan semua bagiannya terurus. Jika ada yang berantakan, sudah semestinya dirapikan kembali. Jika ada yang rusak, sudah semestinya diperbaiki.

Untuk melatih kepekaan itu, siswa Muda dan Dewasa dilatih ilmu-ilmu dasar pertukangan.
Jumat malam pekan kemarin, ketika Mabit/menginap di sekolah, mereka diajak untuk memperbaiki tembok dan pintu yang bolong.
Sebelum eksekusi, siswa Muda dan Dewasa, beserta Madya diajak berdiskusi Pak Fery tentang profesi tukang. Beliau berkata bahwa profesi tukang adalah profesi yang paling tua. Ini sudah ada dari jaman leluhur dengan cara yang paling tradisional.
Saat ini mungkin banyak profesi-profesi baru, tapi banyak yang masih bisa disebut sebagai tukang.
“Misalnya, orang yang suka membuat video. Namanya apa?”, tanya Pak Fery malam itu kepada para siswa.
“Videografer”, semuanya serentak menjawab.
“Iya, betul. Mereka adalah tukang video”, lanjut Pak Fery.
Setelah itu Pak Fery menantang siswa Madya Muda Dewasa untuk berfikir dan berefleksi, kira-kira dengan keahlian yang mereka punya, mereka akan menjadi tukang apa?
Muncullah banyak ide dari siswa. Ada yang mau jadi tukang masak, tukang ngarit, tukang mancing, tukang ngurus sapi, dan masih banyak lagi! Bahkan ada yang mau jadi tukang pungut, karena sang anak suka mengumpulkan barang 😄😆
Puncak kelakar adalah ketika salah satu anak tertarik pada dunia IT, dia terpikir untuk jadi tukang coding. Terdengar lucu ketika dilafalkan dengan logat Sunda menjadi Kang Coding 😆😆 Suasana malam itu menjadi hangat setelah mati listrik dan hujan deras.

Setelah listrik menyala, pekerjaan pertukangan pun dilakukan. Selain butuh cahaya, pekerjaan pertukangan malam itu membutuhkan mesin gerinda.
Walhasil, malam itu siswa Muda dan Dewasa (setara SMP dan SMA) saling bantu dipandu Pak Fery untuk menambal dinding dan pintu yang bolong. Karena sudah mendekati larut malam pekerjaan dilanjutkan keesokan paginya.
Mengajak generasi muda untuk peka di zaman sekarang menjadi tantangan yang berat di tengah tingginya atensi mereka terhadap gadget. Maka, di SAYOGYA anak-anak dilatih untuk sering terhubung dengan realita natural yang ada di sekitar mereka untuk menarik kepekaan dan kepedulian mereka terhadap lingkungan sekitarnya.
Selain itu dengan senantiasa terhubung dengan realita natural, para siswa akan terbiasa melakukan beragam aktivitas yang membuat mereka semakin mengenal dirinya.
Nah, kira-kira Anda sudah dikenal sebagai tukang apa? 😍🤩
Penulis : Desi Mayasari
Redaktur : Muflih Fathoniawan

