Oleh : Elma Fitria Ini adalah materi pengantar yang saya sampaikan di Kulwap RB Dago, 29 Mei 2017 tentang Mengenal dan Menemukan Bakat Anak. Saya sampaikan prinsipnya terlebih daulu, karena penting untuk kita ingat sebagai pribadi dan sebagai orang tua. Prinsip-prinsip ini perlu kita review dalam setiap proses introspeksi kita sebagai orang tua. Ayah, Bunda, dan setiap anak, masing-masing adalah individu yang sepenuhnya berbeda. Jika ada 3 orang di rumah, maka ada 3 individu yang sepenuhnya berbeda.Oleh karena itu, perbedaan cara berpikir, cara merasa, cara berperilaku adalah hal yang pasti terjadi.Itulah sebabnya, sangat penting untuk mengenal diri sendiri, mengenal diri pasangan, dan mengenal diri anak. Jika kita paham pola berpikir-merasa-berperilaku masing-masing, maka : kita akan tahu bagaimana kita dapat menunjukkan sikap yang benar, bagaimana memberi respon yang tepat, dan bagaimana mendukung dengan cara yang paling dia butuhkan. Bunda jadi istri yang lebih baik bagi suami, dan jadi ibu yang lebih baik untuk anak-anak. Ayah jadi suami yang lebih baik bagi istri, dan jadi ayah yang lebih baik untuk anak-anak. Jika kita tidak benar-benar mengenal diri sendiri, diri pasangan, diri anak, maka : kita bisa salah bersikap, salah merespon, dan salah cara mendukung. Sulit jadi pasangan yang lebih baik, sulit jadi orangtua yang lebih baik Tentu saja, kita tidak bisa menganggap bahwa pasangan dan anak kita, akan berpikir seperti kita. Tentu saja, kita tidak bisa menyalahkan pasangan dan anak kita, ketika sikap mereka tidak bisa kita mengerti, semata karena kita sendiri-lah yang terlalu terbiasa dengan cara berpikir kita sendiri. Allah SWT sengaja menjadikan setiap manusia itu berbeda. Karena setiap manusia Allah beri tugas hidup (misi hidup) yang berbeda.Oleh karena itu, tidaklah tepat memasangkan sebuah mimpi kepada anak kita, semata karena kita-lah yang menginginkannya, tanpa kita lihat dulu sebenarnya anak sedang Allah arahkan menuju tugas hidup apa. Itu tidak adil untuk anak.Yang benar dan bijak adalah : dampingi anak sepenuh hati menuju misinya sendiri, yang sudah Allah titipkan untuknya. Bisa jadi sama dengan impian kita, bisa jadi juga beda. Dan ini sama sekali bukan masalah. Mengetahui bakat bukanlah untuk mengejar kesuksesan materi, bukan untuk mengejar ambisi. Memahami bakat adalah bagian dari mengenal diri dan memahami maksud spesifik penciptaan diri kita sebagai mahluk Allah SWT.Oleh karena itu, kita perlu menghadapi pemahaman bakat ini dengan sikap rendah hati, karena menyadari sepenuhnya bahwa :Apa adanya diri kita, pola berpikir-merasa-berperilaku kita adalah sesuatu yang diberikan oleh Allah, sekaligus bukti bahwa kita ini diciptakan oleh Allah dengan seperangkat kekuatan sekaligus kelemahan. Semua bakat itu netral. Bisa jadi positif jika digunakan untuk kebaikan, ini yang kita sebut kekuatan. Bisa juga malah destruktif, jika tidak tahu bagaimana mengalirkannya ke tempat yang tepat. Yang menentukan bakat itu jadi kekuatan adalah penerimaan yang ikhlas atas bakat itu, wawasan yang kaya atas berbagai macam bidang yang ada, serta karakter moral (moral compass) yang terjaga melalui pembiasaan ahlak yang baik. Sebagai orang tua, kita akan sangat terbantu untuk bisa mengenali bakat anak ketika kita mengamati anak, jika kedua orang tua sudah mengenal diri masing-masing dan mengaplikasikan pemahaman atas diri sendiri dalam konteks keluarga.Artinya, kita memahami diri kita dulu, mempraktekkan upaya mengelola kekuatan diri sendiri dulu, maka kemudian ikhtiar kita mengamati bakat anak dan membantu anak menguatkan bakatnya akan menjadi jauh lebih mudah. Memahami bakat anak adalah proses panjang. Jadi jalanilah dengan rileks dan positif. Tidak perlu buru-buru ingin tahu bakat anak sekarang juga. Tidak perlu mengejar apa-apa.Mengapa ? Karena tujuan akhirnya bukanlah “mengekploitasi” anak untuk “sukses” di bidang bakatnya.Tujuan akhir dari memahami bakat anak adalah anak akhirnya sampai menemukan misi unik penciptaan dirinya. Sampai akhirnya dia mengerti “Oh pantes ya saya orangnya begini, kekuatan saya ini, kelemahan saya ini, dan jalan hidup saya begini. Ternyata untuk tugas ini toh”. Bisa jadi ketika anak sampai di kesimpulan ini, kita sudah tidak ada di sisinya lagi. Dia sudah sepenuhnya sendiri. Tugas kita bukan menjamin anak sukses, tugas kita adalah memastikan hari hari sekarang bersama mereka adalah hari hari yang penuh dukungan, optimisme, kepercayaan, dan penerimaan atas apa adanya diri mereka.
Read MoreOleh : Elma Fitria Bagaimana hubungan antara memahami bakat anak dengan pertumbuhan Self Worth dan proses Self Discovery ? Self Worth berkaitan erat dengan Self Esteem dan Self Concept. “Our self-concept comes in childhood, from messages about how to treat me, how to treat others, and how I come to expect others to treat me.” Kalimat diatas disampaikan oleh Virginia Satir, seorang penulis dan psikoterapis dari Amerika Serikat, yang dikenal khususnya untuk pendekatannya dalam terapi keluarga dan pekerjaannya Systemic Constellations. Beliau secara luas dianggap sebagai “Ibu dari Terapi Keluarga” (sumber Virginia Satir). Jika diterjemahkan secara bebas artinya “Konsep diri kita terbentuk di masa kecil kita, dari pesan-pesan (yang konsisten berulang) tentang bagaimana cara memperlakukan saya, bagaimana cara memperlakukan orang lain, dan bagaimana saya berharap orang lain paham cara memperlakukan saya” Dengan begitu bisa kita simpulkan, bahwa Self Worth dan semua bagian dari Self Concept (Konsep Diri) terbentuk sejak masa kecil. Ini berarti bahwa pengasuhan kita pada anak-anak, cara kita memandang dan bicara pada mereka, cara kita menerima mereka sepenuhnya apa adanya, cara kita mendukungnya, cara kita membantunya mengelola hal yang kuat darinya, cara kita membantunya menyiasati kelemahannya, dst. adalah hal hal penting yang harus kita perhatikan sehingga anak tumbuh dengan self worth yang baik. Dari Yayasan Kita dan Buah Hati yang diasuh Bu Elly Risman, pemahaman tentang Self Worth kira kira seperti ini : Self Worth adalah penilaian diri anak terhadap dirinya sendiri. Apakah anak merasa dirinya berharga atau tidak. Anak yang memiliki rasa berharga tidak mudah guncang atau merasa jatuh meski diterpa berbagai masalah. Self Worthnya positif. Sebaliknya, jika Self Worth positif belum terbangun, ia mudah merasa terpuruk, terpojok, tersingkir, meski situasi tak terlalu buruk. Saya mengutip lagi dari Virginia Satir. Menurut beliau, ada 5 faktor yang mengindikasikan tingkat Self Esteem pada diri seseorang. 5 hal ini menjadi ciri yang perlu kita pantau pada anak, apakah kita sudah membantu 5 hal ini terbentuk dengan baik pada anak. Security. Merasa nyaman dan aman ada bersama orang lain dan lingkungannya. Tahu dan merasakan bahwa ada orang-orang yang bisa saya ajak berbagi apapun. Belongingness. Menjadi bagian atau terlibat dengan kelompok yang penting karena memberi makna tertentu. Personhood. Memahami siapa diri saya, apa peran saya, dan merasa nyaman dengan itu. Competence. Mengalami sukses dalam proyek, merasa puas dan bahagia dengan bagian/jatah tugas saya. Direction. Memiliki tujuan jelas, arah, pilihan-pilihan, peluang-peluang, dan memiliki kesadaran penuh untuk membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya angan-angan. Pada 5 indikator yang Virginia Satir sampaikan, ada Personhood yang menekankan pada anak mengenal dirinya dengan baik, ada juga Competence yang menekankan pada pentingnya anak pernah merasakan kesuksesan dalam mengerjakan proyek dengan baik, serta Direction yang menekankan pada tujuan dan arah yang jelas serta mampu membaca pilihan dan peluang. Ini semua terkait bakat kuat anak dan bakat lemah anak. Dari penjelasan di atas, sangat jelas bahwa pertumbuhan self worth anak paling utama dipengaruhi oleh pengasuhan orang tuanya, serta penerimaan orang tua atas bakat kuat dan bakat lemah anaknya. Kenyataannya, salah satu pihak utama yang sering meredupkan self worth anak, adalah orang tua sendiri. Yaitu orang tua yang tidak mau menerima apa adanya diri anak, dan menuntut diri anak menjadi berbeda, tidak sesuai bakat kuatnya. Anak dipaksa menjadi orang lain, yang sesuai dengan pemikiran orang tuanya. Jika demikian kejadiannya, bagaimana mungkin anak akan menemukan (discover) siapa sebenarnya diri mereka. Oleh karena itu, maka proses self discovery nya jelas akan terhambat. Contoh nyatanya seperti ini : Sejak anak kecil, dia menunjukkan minat tinggi terhadap seni. Aktivitas dia seputar menggambar menunjukkan 5 ciri bakat yang tadi dijelaskan. Tapi orang tua punya impian pribadi yang dulu tak tergapai : menjadi dokter. Oleh karena itu, orang tua mendorong anak menjadi dokter, apalagi anaknya ini menonjol secara akademik di sekolah. Orang tua mengabaikan semua pertanda bahwa anak punya minat sendiri, punya kekuatan dalam hal tertentu, dan lemah di hal hal tertentu. Saat ini, orang tua hanya fokus pada impiannya sendiri. Sekarang, saya ingin mengajak Ayah Bunda membayangkan situasi ini. Rasanya tak jarang kita temui situasi mirip mirip seperti ini. Dalam keluarga yang seperti ini, anak akan kesulitan membangun self worth-nya sendiri. Justru rasa berharga dirinya jadi disandingkan dengan label : masuk jurusan yang dipilih orang tuanya. Padahal apa adanya diri anak itu sudah berharga. Dari lahir, tanpa embel embel apapun, anak itu sudah berharga. Anak itu kan titipan Tuhan. Dipercayakan pada orang tua yang ini. Itulah hadiah paling berharga, karena kita dipercaya Tuhan. Jika yang terjadi malah situasi seperti ini, anak tidak akan merasa dirinya apa adanya itu berharga. dia akan selalu mencari pemenuhan self worthnya dari luar dirinya, dari label di luar dirinya, dan semakin menjauhkan dirinya dari dirinya yang asli dan otentik. Demikian gambaran hubungan antara memahami bakat dengan Self Worth dan Self Discovery. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk sepenuh hati menerima anak apa adanya, dan berusaha sungguh sungguh mengenal diri anak. Mengenal kekuatan dan kelemahan anak, sehingga penerimaan yang muncul adalah penerimaan dengan dukungan yang menguatkan bakat kuatnya, dan menerima serta membantu menyiasati bakat lemahnya. Semoga bermanfaat. Selamat mengenali diri anak Anda dengan lebih dalam
Read More“Putra putri Indonesia yang telah berusia 15 tahun sudah harus mampu melakukan seluruh peran tanggungjawab orang dewasa”. Demikian bunyi kalimat dalam UU Pendidikan dan Pengajaran tahun 1951. Jadi sebenarnya Indonesia sudah mengatur tentang kedewasaan bahkan di usia berapa sebenarnya anak anak sudah tidak bisa dikategorikan lagi sebagai anak anak, dan semestinya sudah pantas disebut dewasa. Dilihat dari hal ini, sebenarnya UU sudah mengatur standar kepemudaan dengan benar, memiliki kualitas aqil baligh di usia 15 tahun. 4 mazhab ulama telah menyepakati bahwa paling lambat usia 15 tahun seseorang harus sudah mukallaf. Ini artinya deadline aqil baligh adalah 15 tahun, yang umumnya terjadi aqil sudah mulai di usia 12-13 tahun. Dengan begitu, kalaulah ada fase transisi, dalam Islam, fase itu itu maksimal 3 tahun, yaitu dari usia 12 tahun ke 15 tahun. Dalam Islam, jika pada usia 12 tahun seseorang sudah baligh, karena belum 15 tahun, jika ingin ikut perang tetap harus izin orang tua dulu. Sebenarnya pemuda Indonesia dulu pun sudah matang di usia 15 tahun. Kita bisa lihat dari sejarah Sumpah Pemuda. Dalam Sumpah Pemuda kita bisa melihat bagaimana kualitas kepemudaan saat itu. Dalam kalimat “Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”, sesungguhnya tercermin kedewasaan para pemuda saat itu. Mereka punya kemampuan orang dewasa yang bahkan anggota MPR DPR sekarang pun belum tentu punya, yaitu kemampuan syuroo. Pemuda yang hadir di Sumpah Pemuda itu mayoritas adalah Jong Java, berarti mereka berbahasa Jawa. Andaikan pengambilan keputusan dilakukan secara voting, sudah pasti bukanlah bahasa Melayu yang dijadikan sebagai bahasa Indonesia. Dalam kalimat itu bahasa Indonesia juga disebut sebagai bahasa persatuan. Artinya semua pemuda yang hadir mengakui keberagaman bahasa daerah di Indonesia dan tidak menyebut sebauh bahasa sebagai satu satunya bahasa. Mereka punya kemampuan syuroo, bukan voting. Syuroo itu buth kemampuan Collective Thinking. Collective Thinking ini sebuah kemampuan yang mulai jarang ada sekarang. Pendidikan kita banyak yang menekankan pada critical thinking saja. Jangan salah, Critical Thinking itu bagus untuk sains, tapi butuh Collective thinking itu bagus untuk sosial. Dunia sintesis dan sosial itu didasarkan pada kemampuan collective thinking. Sebegitu bedanya kualitas kepemudaan dahulu dibandingkan dengan kualitas keremajaan sekarang. Kita bisa melihat bedanya anak usia 15 tahun dahulu dan sekarang. Anak anak di tahun 50-an, usia 15 tahun “Bunda, ini ada sedikit uang untuk beli sirih”, sementara sekarang orang usia 20 tahun masih bisa bertanya “Ayah, uang kuliah mana ?” Sekarang lulusan S1 pun masih culun. Menurut seorang dosen ITB kepada Ustadz Adriano Rusfi, sepertinya batas aqil itu bukan di 25 tahun sekarang, tampaknya geser ke usia 27 tahun. Ini mengacu pada pengalaman beliau sendiri, bahkan mahasiswa S3 pun masih ada yang harus dicek progress tesisnya oleh dosen pembimbingnya. Bahkan di UI pun masih ada mahasiswa yang ketika ujian tesis masih didampingi orang tuanya. Sementara itu anak anak baligh semakin cepat. Sekarang baligh itu sudah banyak yang mulai di usia 9 tahun. Jadi bisa dilihat bahwa baligh semakin cepat, sementara aqil semakin lambat. Upaya menumbuhkan aqil itu bukan semata urusan ibadah mahdhah dan nafilah saja. Sayangnya justru inilah yang banyak terjadi, karena salah kaprah. Banyak anak kita sekarang dididik taklif syar’i tapi tidak dididik jadi mukallaf. Diajari shaum, shalat, menutup aurat, tahfidz, tapi kemudian ikhtiar jadi mukallafnya belum dididik. Taklif adalah kesiapan memikul beban, maka menjadi Mukallaf artinya siap memikul beban. Jika ditarik sampai kesini, kita jadi mengerti mengapa ada kasus anak berjilbab tapi hamil di luar nikah. Ya karena ada pendidikan salah kaprah, karena memakaikan jilbab pada anak tidak serta merta berarti dia otomatis mampu memikul tanggungjawab syar’i. Ini seperti kita mengajari teknik angkat barbel, tapi otot anak tidak disiapkan. Kalau dipaksakan, pasti ototnya patah. Sekarang generasi yang patah seperti ini banyak sekali jumlahnya. Waktu SD disuruh jadi anak baik dan mereka menurut, pas SMP jadi seperti anak hilang dan orang tua pun jadi bingung. Anak anak itu telah tumbuh menjadi remaja yang terjebak dalam kebingungan identitas dan transisi yang penuh kegalauan, bahkan terbawa oleh fenomena masalah keremajaan yang melingkupinya. Remaja adalah sebuah fenomena yang harus diakui memang ada. Namun bukan sebagai sebuah kemestian. Artinya bukan harus ada, justru ketika faktanya memang ada fenomena remaja, maka disitulah masalahnya, karena semestinya masa remaja itu tidak perlu ada. Mari berbenah diri dan luruskan tujuan pengasuhan kita. Pancangkan niat dan teguhkan arah bahtera rumah tangga kita, sehingga tujuan kita adalah mendampingi dan menumbuhkan anak siap menjadi aqil ketika ia memasuki gerbang balighnya. Masih panjang perjalanan kita, Bismillaah …
Read MoreOleh : Elma Fitria Setiap anak akan tumbuh menjadi manusia dewasa. Itu pasti. Tapi usia berapa sih seorang manusia sudah pasti bisa disebut dewasa ? Menariknya, tidak ada angka yang pasti, tergantung dari apa itu definisi dewasa. Ternyata tiap orang punya beda sudut pandang untuk hal ini. Supaya adil, mari kita lihat bagaimana lembaga resmi menetapkan definisi dewasa. Saya mengutip materi yang disampaikan Ustadz Adriano Rusfi dalam Workshop Pendidikan Aqil Baligh, ketika Ustadz bercerita tentang definisi yang dibawa oleh BKKBN dalam sebuah acara nasional di Jogja. BKKBN adalah Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, dahulu BKKBN adalah Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. Perubahan nama ini penting, karena dengan perubahan ini, sekarang BKKBN menyatakan perhatian besarnya pada masalah kependudukan tidak hanya sekedar urusan keluarga berencana saja. Kiblat BKKBN se-Indonesia itu ke BKKBN Jogja, karena dianggap paling sukses dengan program keluarga berencana. Dalam sebuah acara BKKBN di Jogja, disampaikan bahwa menurut WHO, kesehatan reproduksi adalah : “Keadaan dimana fisik mental dan sosial secara utuh menjalankan fungsi fungsi reproduksi” Sebentar, berhenti dulu disini sejenak. Apa hubungannya antara kesehatan reproduksi dengan definisi dewasa ? Menurut pandangan umum, dewasa ditandai dengan kemampuan untuk melakukan fungsi reproduksi. Tentunya kita merujuk pada kemampuan yang dilakukan secara sehat, artinya ini juga akan mengacu ke kesehatan reproduksi. Nah, menurut WHO, kesehatan reproduksi adalah keadaan dimana fisik mental dan sosial secara utuh menjalankan fungsi fungsi reproduksi. Tapi masalahnya, remaja pun sudah bisa melakukan fungsi reproduksi. Lalu mengapa remaja tidak disebut dewasa jika dilihat dari definisi WHO ? Nah, disinilah definisi menjadi seolah bentrok. Karena ada segolongan manusia yang disebut remaja, yang sudah bisa melakukan fungsi reproduksi tapi tidak bisa dikategorikan dewasa. Mengapa tidak bisa ? karena umumnya remaja belum matang secara pemikiran, perasaan, emosi, dan finansial. Masih sulit mengambil keputusan dengan tepat. Masih galau dengan situasi dirinya. Masih berkutat dengan tuntutan akademis. Masih belum bisa menghadapi diri sendiri. Justru akan jadi kondisi yang mengkhawatirkan jika seorang manusia fokus pada kematangan fungsi reproduksinya, tapi kekanak-kanakan dalam hal pemikiran, perasaan, emosi, finansial, tanggung jawab, dll. Namun nyatanya, inilah masalah yang sering terjadi. Banyak sekali di sekitar kita. Ada begitu banyak manusia, yang disebut remaja, terjebak dalam masalah-masalah serupa dan berulang, sampai sampai kita melihatnya menjadi fenomena tersendiri yang umum dan dimaklumi semua orang. Bukan hanya tentang pubertas yang mengarah ke pergaulan seksual, tapi juga agresivitas yang dituangkan dalam bentuk tawuran, nge-gang, bullying, sampai ke masalah peer pressure, bahkan narkoba dan tindak kriminal. Acapkali kita dengar orang tua yang berusaha menenangkan orang tua lainnya yang sedang frustasi tentang anaknya dengan mengatakan “Biasalah, namanya juga remaja. Memang lagi usianya begitu”. Ustadz Adriano Rusfi mengatakan kalau dulu Soekarno berkata “Beri aku 10 pemuda, maka akan aku guncang dunia.” Tapi kini, yang disebut pemuda itu sudah tidak ada, yang banyak adalah remaja dengan beragam masalah khasnya, maka Ustadz berkata “Beri aku 1 remaja, pusing kepalaku dibuatnya”. Begitu banyaknya masalah seputar remaja, bahkan sampai ke masalah tindak kriminal, yang membuat kita jadi berpikir bahwa ini bukti nyata mereka ini belum dewasa. Meskipun fungsi biologis mereka berkata lain. “Remaja adalah sebuah fenomena yang harus diakui memang ada. Namun bukan sebagai sebuah kemestian. Artinya ketika faktanya memang ada fenomena remaja, justru disitulah masalahnya, karena semestinya itu tidak perlu ada. Kalau memang remaja itu konstitusional, mestinya dikenal sejak zaman Adam a.s. tapi ini ternyata tidak” – Ustadz Adriano Rusfi Wah, jika remaja itu bukan kemestian, berarti bagaimana dong yang benar ? Apakah semestinya anak itu tumbuh langsung jadi dewasa ? Tidak melewati masa remaja dulu ? Iya. Ternyata memang itu jawabannya. Dalam Islam dan agama mana pun, sebenarnya tidak pernah ada istilah remaja. Hanya ada istilah anak dan dewasa. Dalam budaya tradisional dari suku manapun, tidak pernah ada pengakuan sebagai remaja. Yang ada adalah fase anak, dan sebuah gerbang atau ritual sebagai pengakuan bersama bahwa seorang anak telah menjadi dewasa. Artinya, seorang manusia diharapkan memiliki kematangan berpikir dan merasa bersamaan dengan kematangan fungsi reproduksinya. Dalam Islam ini dinamakan Aqil bersamaan dengan Baligh. Aqil Baligh. Aqil adalah kematangan pemikiran, perasaan, emosi, sehingga ada keterkaitan erat antara otak dan hatinya. Misalnya, orang yang aqil tahu bahwa berhubungan seksual bisa menyebabkan kehamilan, maka menyadari konsekuensi bahwa bisa hamil membuatnya bersedia menunda kesenangan melakukan hubungan seksual sampai waktunya nanti menikah. Ini contoh keterkaitan otak dan hati, dalam hal ini perasaan. Bersedia menunda kesenangan, meskipun fisik sudah siap dan fungsional. Baligh adalah kematangan fungsi reproduksi. Tandanya adalah menstruasi pertama pada perempuan, dan mimpi basah pertama pada laki-laki. Frasenya pun Aqil Baligh, artinya Aqil dulu, baru Baligh. Penting untuk mencapai kematangan pikiran dan perasaan dulu sebelum kematangan fungsi reproduksi. Dari sini, kita bisa melihat secercah harapan. Jika anak anak dipandu dan dituntun untuk Aqil dulu baru Baligh, begitu banyak masalah fenomena ke-remaja-an yang bisa dicegah, karena mereka akan mengerem diri sendiri dari bertindak tanpa berpikir, dan mereka akan fokus pada produktivitas karena didorong oleh kematangan pemikirannya sendiri. Masih panjang pembahasan tentang Aqil Baligh ini, karena masih banyak hal yang bisa dieksplor lagi. Semoga secercah harapan akan tumbuhnya generasi Aqil Baligh menyemangati setiap langkah kita menjadi orang tua dalam membersamai anak anak kita.
Read MoreAdalah fenomena umum di masyarakat kita di mana dalam keluarga Ayah hanya sibuk mencari nafkah dan hanya istrinya yang mengasuh dan mendidik anak. Ada keluarga yang seperti itu karena memang meyakini begitulah pembagian perannya. Ada juga yang meyakini bahwa mendidik anak adalah tanggung jawab bersama, namun pikiran dan waktu sang Ayah terlalu tersedot ke pekerjaan sehingga tugasnya tidak tersentuh. Di dalam Islam telah jelas ditegaskan bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab ayah sebagai pemimpin keluarga. Allah ta’ala berfirman dalam surat At-Tahrim ayat 6, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” Seorang tabi’in, Qatadah, ketika menafsirkan ayat ini mengatakan, “Yakni, hendaklah engkau memerintahkan mereka untuk berbuat taat kepada Allah dan melarang mereka dari berbuat durhaka kepada-Nya. Dan hendaklah engkau menerapkan perintah Allah kepada mereka dan perintahkan dan bantulah mereka untuk menjalankannya. Apabila engkau melihat mereka berbuat maksiat kepada Allah, maka peringatkan dan cegahlah mereka.” (Tafsir al-Quran al-’Azhim 4/502). Selain firman Allah di atas, dalam sebuah hadits dari Ibnu radhiallahu ‘anhu, bahwa dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggunjawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari: 2278). Begitu juga nasehat seorang sahabat, Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata, “Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.”(Tuhfah al Maudud hal. 123). Sudah sangat jelas Allah memerintahkan dan Rasulullah SAW mencontohkan bahwa memimpin dan mendidik seluruh anggota keluarga, istri dan anak, adalah tugas seorang ayah. Maka jika ada yang menganggap bahwa kewajiban seorang ayah adalah sebatas mencari nafkah dan mendidik anak adalah tugas istri, anggapan itu jelas keliru. Sadar tapi Tak Sempat Namun yang lebih sering kita jumpai di keluarga muslim adalah para ayah yang sadar akan kewajiban mendidik anak namun tak sempat menunaikannya karena waktu dan pikirannya begitu tersita mengurus pekerjaan dan sumber nafkah. Mengapa mereka terlalu sibuk bekerja dan karenanya pendidikan anak terabaikan? Sebabnya adalah karena mereka terjebak dalam dua situasi yang keliru : Pertama, merasa dituntut oleh keadaan dan khawatir akan kesejahteraan keluarga. Kedua, terlalu berambisi membangun karier dan meraih kesejahteraan finansial. Istri yang merasa penghasilan suaminya kurang, anak yang kerap meminta ini dan itu, mertua yang menganggap rumah kontrakan bukanlah tempat hidup yang layak, dan masih banyak lagi tuntutan dari diri sendiri maupun dari orang lain di sekitar dirinya bisa membuat seorang suami merasa selalu dikepung tuntutan. Bagi yang merasa dituntut oleh keadaan dan khawatir akan kesejahteraan keluarganya, mari tegaskan kembali di pikiran kita bahwa : Amanah terbesar kita setelah menikah adalah keluarga, karier nomor dua. Mencari nafkah hanyalah salah satu tugas kita dalam memimpin keluarga. Pada hakikatnya Allah menjamin nafkah kita selama hidup akan tercukupi. Bahwa setiap keluarga akan diuji dengan kekurangan harta, makanan, kesehatan, dll. Tantangan mencari nafkah adalah dalam hal kualitas cara, bukan kuantitas hasil. Mencari nafkah itu untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kalau rasa khawatir akan kekurangan nafkah membuat kita terlalu sibuk bekerja dan abai akan pendidikan anak, justru kita akan mendatangkan masalah yang jauh lebih besar daripada sekedar kekurangan harta. Mengkhawatirkan apa yang sudah dijamin oleh Allah sehingga mengabaikan apa yang Allah tetapkan sebagai tanggung jawab kita adalah kesalahan berganda. Jika tuntutan dan perasaan khawatir berkekurangan itu muncul dari istri, anak, atau dari sekitar kita, jelaskanlah kepada mereka bahwa bersyukur akan apa yang sudah Allah anugrahkan akan membuat kita semua bahagia, dan pada waktunya Allah akan tambahkan apa yang baik bagi kita. Lalu bagaimana dengan mereka yang kurang memperhatikan keluarga karena merasa harus membangun kesuksesan hidup yang berupa karier yang tinggi dan harta yang melimpah? Sadarilah bahwa yang dicari dari karier yang sukses, jabatan yang tinggi, dan harta yang banyak adalah kebanggaan dan kehormatan. Sesuatu yang memang sangat mendasar bagi laki-laki. Sejak kecil, dalam pikiran laki-laki telah ditanamkan berbagai macam cita-cita dan ambisi oleh orangtuanya, gurunya, atau orang-orang dewasa di sekitarnya demi memupuk semangat juang mereka. Mereka diyakinkan bahwa semua bentuk keberhasilan itu adalah sumber kehormatan. Padahal sebenarnya itu semua hanyalah sumber pujian, bukan sumber kehormatan. Perlu kita pahami bahwa ternyata mencari kebanggaan dan kehormatan dari kesuksesan karier dan kelimpahan harta bukanlah fitrah laki-laki, bukan cara yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat. Perhatikanlah, di masa Rasulullah SAW dan para sahabat, laki-laki muslim dewasa di masa itu tidak mencari kehormatan dari jenis pekerjaannya dan jumlah kekayaannya. Kehormatan seorang laki-laki muslim dewasa berasal dari kemampuannya menjalankan perintah Allah, kesungguhannya mendukung perjuangan Rasulullah SAW, kebaikan akhlaknya kepada sesama muslim dan sesama manusia, serta dari kemampuannya memelihara keluarga agar senantiasa dalam kebenaran. Persepsi bahwa kehormatan seorang laki-laki dilihat dari jenis pekerjaannya, tinggi jabatannya, dan jumlah hartanya adalah persepsi yang baru muncul di akhir zaman dan bersumber dari masyarakat di luar islam. Memang sejak kita lahir persepsi itu sudah menjadi pemikiran mayoritas manusia sehingga persepsi itu begitu merasuk di pikiran kita. Namun jelaslah itu persepsi yang keliru. Oleh karena itu, solusi dari prioritas kita yang keliru (mengutamakan pekerjaan dan karier sehingga mengambaikan pemeliharaan dan pendidikan istri serta anak) adalah meninggalkan persepsi itu dan kembali kepada cara pandang yang benar sebagaimana Rasulullah SAW contohkan di atas. Kehormatan kita berasal dari seberapa baik kita dalam menjalankan perintah Allah, kesungguhannya mendukung perjuangan Rasulullah SAW, kebaikan akhlaknya kepada sesama muslim dan sesama manusia, serta dari kemampuannya memelihara keluarga agar senantiasa dalam kebenaran. Lalu apa yang bisa dibantu oleh seorang istri agar suaminya terlepas dari dua persepsi yang keliru di atas? Berikut beberapa saran yang bisa diupayakan : Selalu bersyukur dengan apa yang Allah anugrahkan. Pandailah mengelola harta yang ada agar senantiasa cukup untuk kehidupan sehari-hari. Berhentilah memberikan tuntutan yang tidak perlu terkait harta dan kehormatan. Selama halal, hormati suami apapun pekerjaannya dan berapapun nafkah yang diberikan. Bantulah suami menghadapi tuntutan yang tidak perlu dari orang-orang disekitarnya. Baik itu dari keluarga besar, dari mertua (orangtua anda sendiri), dari anak, dan dari lingkungan sekitar. Kerja keras mencari nafkah jadi tidak bermakna…
Read MoreOleh : Muhammad Firman Sebelum menginginkan anak kita menjadi sebaik ini atau sebaik itu, jadi seperti ini atau jadi seperti itu, sudah semestinya kita memikirkan dan mengusahakan diri menjadi sebaik-baiknya orangtua. Karena,Akan menjadi apa anak kita adalah rencana Allah, prosesnya akan berlangsung dalam alur serta ukuran-ukuran Allah. Menempatkan proses hidup anak dalam ruang imajinasi kita akan membuat kita salah bersikap dan justru tak hidup di dalam realita Ilahi. Lalu kita menganggapnya sesuatu yang bisa kita kendalikan, dan kita jadi tak mampu memahami alur yang Allah berikan baginya jika itu berbeda dengan imajinasi kita. Karena,Allah telah menjadikannya lahir dengan fitrah yang hanif. Tugas orangtua adalah memeliharanya, serta menjaga fitrah itu tetap lurus. Itu artinya kita mesti jadi penjaga, bukan penentu, pendamping, bukan pendikte. Itu juga tentang bagaimana kita menjalankan tugas sebaik-baiknya. Tentang mengukur dan mengevaluasi diri kita sesuai ukuran-ukuran Allah, bukan tentang mengukur dan mengevaluasi anak dengan ukuran dan imajinasi kita. Karena,Jika kita berpikir tentang “akan menjadi anak yang sebaik ini atau sebaik itu”, maka kalimat itu semestinya dilekatkan pada diri kita terlebih dahulu. Kita adalah anak dari orangtua kita, sebelum kita menjadi orangtua dari anak kita. Dan mereka, anak-anak kita, pastilah akan melihat bagaimana kita sebagai anak dari orangtua kita. Mereka akan melihat apa teladan yang kita berikan. Maka sekali lagi, jadilah orangtua yang baik. Berilah teladan yang baik. Karena,Sebagai orangtua kita hanya sanggup berimajinasi tentang keberhasilan dan kehormatan yang akan diraih anak kita. Kita tak mampu membayangkan apa saja kegagalan dan kehinaan yang harus dilalui anak kita untuk sampai di tujuan akhir misi hidupnya. Lalu apakah kita akan menjadi orangtua yang membanggakan anak saat ia berhasil namun menolaknya saat ia gagal? Allah Maha Adil dan Seimbang. Allah yang akan meracik alur hidupnya sedemikian rupa. Imajinasi kita tidak berguna apa-apa. Karena,Tugas kita memang itu, menjadi orangtua. Lakukan yang terbaik, maka Allah akan ridho. Keridhoan Allah atas kita semoga menjadi naungan berkah bagi anak-anak kita. Lalu dalam naungan berkah itu mereka tumbuh menjadi manusia yang baik melebihi batas-batas imajinasi kita. Seorang jenderal, peneliti penemu kelas dunia, hafidz dan ulama besar bisa terlahir dari orangtua berpendidikan terbatas, dari petani desa, atau guru biasa. Bukan imajinasi mereka yang mengantarkan anak-anaknya, tapi doa dan dedikasi pengabdian mereka sebagai orangtua. Apa yang diraih sang anak bisa jadi tak pernah ada di alam pikiran mereka. Jadilah orangtua terbaik. Ikhtiarkan yang terbaik. Simpan imajinasi kita. Ganti dengan doa. Itulah tugas kita.
Read More
Recent Comments