Dari tahu kupat anak-anak belajar bahwa beras dapat dimasak dalam bentuk olahan lain dengan bungkus bahan alam
Tidak seperti hari Selasa, Rabu, dan Kamis, hari Jumat siswa Semai Mula tidak membawa bekal makan siang ke sekolah. Kenapa? Karena setiap hari Jumat siswa berlatih dan membantu memasak di sekolah. Tak terkecuali pada Jumat, 7 Februari 2025 lalu.
Tidak semua siswa terlibat dalam kegiatan memasak. Di waktu yang sama, siswa yang lain berkegiatan terkait pekerjaan pertukangan atau literasi berdasarkan kebutuhan dan giliran.
Menu yang dimasak beragam dan berganti-ganti setiap pekannya.

Kali kemarin menu yang dimasak adalah tahu kupat. Makanan dengan kombinasi ketupat, tahu, tauge, kol, daun bawang, seledri, bawang goreng dan kerupuk berpadu dengan kuah dengan cita rasa manis dan asam ditambah taburan kacang tanah bubuk menggugah selera kita semua Jumat siang itu. Apalagi untuk orang dewasa ditambah dengan sambal cabe rawit pedas. Wuaaahhh, rasanya mantap sekaliii 😍😋
Dari tahu kupat anak-anak belajar bahwa beras dapat dimasak dalam bentuk olahan lain dengan bungkus bahan alam, yakni daun kelapa yang masih muda yang disebut janur kelapa. Bersamaan dengan itu dihadirkan pula lontong dengan bungkus daun pisang.
Betapa sejak zaman dahulu nenek moyang kita sudah mewariskan ilmu membungkus dengan bahan yang ramah alam, yang akan kembali ke tanah setelah dimanfaatkan.
Kira-kira 2 jam waktu yang dibutuhkan untuk menyajikan sekitar 50 porsi tahu kupat. Para pamong bekerja sama dengan para siswa Semai dan Mula putri untuk menyelesaikannya.
Para siswa pun riang gembira menerima tugas. Ada yang membantu menghaluskan bumbu, menumbuk kacang tanah, mengiris dan menggoreng tahu, dll.

Semoga latihan-latihan kecil dalam proses memasak mematrikan sebuah kebiasaan baik bagi siswa perempuan untuk terbiasa menyajikan menu sehat bagi keluarga. Semoga menu tahu kupat ini tidak hilang dari peradaban.
Foto : Dokumentasi Pamong Sayogya
Tulisan : Desi Mayasari
Redaktur : Muflih Fathoniawan

