Pada Rabu, 12 Februari 2025, anak-anak sudah berbaris di depan Taman SAYOGYA, busur kecil di tangan mereka. Mata mereka berbinar penuh semangat. Di depan mereka, Pak Feri, pamong Sekolah Alam Yogyakarta, berdiri dengan tenang. “Tarik perlahan, jangan buru-buru… Rasakan tarikan busurnya, fokus ke sasaran, lalu lepas,” jelasnya. Satu bulan sekali, anak-anak Semai Mula (usia 4–9 tahun) berkumpul untuk belajar memanah. Sekilas, ini hanya terlihat seperti olahraga biasa. Tapi lebih dari itu, ini adalah latihan hidup. Saat pertama kali mencoba, banyak yang kecewa karena panahnya melenceng jauh dari target. Ada yang mengeluh, ada yang cemberut. “Sulit!” kata mereka. Tapi Pak Feri hanya tersenyum, “Coba lagi. Pelan-pelan. Fokus. Tarik napas.” Perlahan mereka mulai paham. Bahwa terburu-buru hanya membuat panah meleset. Bahwa semakin tenang, semakin dekat panah ke sasaran. Bahwa memanah bukan soal kekuatan, tapi tentang keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan perasaan. Dari sisi perkembangan anak, memanah adalah latihan sensorik motorik yang luar biasa. Saat menarik busur, otot tangan dan bahu bekerja. Saat membidik, mata dan otak belajar berkoordinasi. Saat melepaskan panah, mereka memahami ritme gerakan. Semua terjadi secara alami, tanpa mereka sadari sebagai “latihan.” Lebih dalam lagi, Sayogya berusaha menghidupkan kembali sunnah Rasulullah melalui olahraga ini. Memanah adalah bagian dari warisan keislaman yang mengajarkan ketangkasan, kesabaran, dan strategi. Bukan hanya sekadar keterampilan, tetapi bagian dari cara hidup yang penuh kesadaran. Dan akhirnya, ketika anak-anak berhasil mengenai sasaran pertama mereka, ekspresi mereka berubah. Dari kecewa menjadi bangga. Dari ragu menjadi percaya diri. Dan tanpa mereka sadari, bukan hanya panah yang melesat, tetapi juga keyakinan mereka pada proses. Jadi, siap menarik busur lagi? Penulis: Manisya Lis Pratitis | Fotografer: Riski Galih Firnanda | Redaktur: Muflih Fathoniawan
Read MoreTaman Sayogya, 12 Februari 2025 Sejak zaman SD kita sudah dilatih untuk menanam kacang tanah dengan bahan dan cara yang sederhana. Hanya butuh cup plastik dan kapas basah sebagai media tanamnya. Senang sekali rasanya ketika biji kacang tanah mulai berkecambah lalu muncul beberapa daun. Tapi sayang proses itu tidak pernah berlanjut sampai menjadi tanaman kacang tanah dewasa, berbunga, dan panen kacang tanah. Dan menjadi misteri sepanjang masa, sampai menjadi orang dewasa kita tidak pernah tahu bagaimana bentuk tanaman kacang tanah dewasa. Hiks, sediiih 😢 Mari putus siklus ini. Mari kita ajarkan anak-anak kita belajar menanam sampai tuntas. From farm to table. Anak-anak perlu menyaksikan dan terlibat secara langsung proses panjang sebuah tanaman ditumbuhkan sama Allah, dirawat oleh manusia sampai akhirnya terhidang di meja makan sebagai suplai energi untuk manusia beribadah dan beraktivitas. Biji kacang yang mulai disemai di bulan Rabiul Akhir sudah bisa dipanen 3 bulan kemudian. Anak-anak dipandu secara intens oleh Bu Tyas sejak persiapan lahan, benih, sampai proses panen. Setelah dipanen, tempo hari sudah diolah dengan cara direbus dan sudah disajikan untuk berbagai agenda: dimakan bersama, disajikan untuk orangtua ketika Progress Discussion, disajikan untuk tamu yang berkunjung ke SAYOGYA, disajikan untuk orangtua ketika agenda Orientasi di awal semester. Sisanya dikeringkan untuk diolah menjadi kue kacang 😍🤩 Ide membuat kue kacang muncul karena sebentar lagi Lebaran 😍😅 eh Ramadhan aja belum. Hihihi, astaghfirullah 🙈 Dalam proses pembuatannya, kami bekerjasama dengan salah satu orangtua murid. Beliau adalah Budhe Suratmi atau lebih kami kenal dengan Budhe Yanto. Beliau adalah salah satu warga Padukuhan Beran Kidul, dimana SAYOGYA ini berada. Putra beliau saat ini adalah siswa jenjang Muda (setara SMP). Kue kacang yang mungkin sebagian besar anak-anak selama ini langsung ‘hap’ menyantap, kali ini mereka dilatih untuk untuk mengikuti prosesnya dari awal. Biji kacang tanah yang sudah kering disangrai terlebih dahulu dengan wajan tanah liat. Setelah itu, kulit arinya dilepas. Di proses ini, siswa Semai Mula distimulasi untuk belajar motorik halus untuk mengelupas kulit ari biji kacang tanah. Untuk memisahkan biji dan kulit ari yang sudah dikelupas, anak-anak menyaksikan sebuah proses ‘napeni’ yang dilakukan oleh pamong (Jawa-red). Mereka pun sangat excited karena kulit ari yang begitu ringan beterbangan dan biji-biji kacang tanah berlompatan. Proses selanjutnya adalah menghaluskan biji kacang tanah, menimbang bahan, membuat adonan, membentuk adonan. Lagi-lagi motorik halus anak-anak diasah. Anak-anak juga belajar sains dari proses memanggang. Aroma harum sudah menguar dari dalam oven. Wangiii 😍🤩 Setelah shalat Dzuhur dan makan siang, anak-anak pun mencicip hasil kerjasama kita bersama. Enaaak bangeeet 😍🥰 Buka PO kue kacang nggak ya? 😆😆 Tulisan oleh : Desi MayasariFoto oleh : Guru-guru Semai dan Mula SAYOGYA | Redaktur konten : Muflih Fathoniawan
Read MorePada Rabu, 12 Februari 2025 di Sanggar Sayogya, siswa putra kelas Madya, Muda, dan Dewasa berlatih mengumandangkan adzan bersama Pak Hamza. Dalam sesi kajian diniyah di Sanggar, Pak Hamza melatih siswa untuk mengumandangkan adzan.Siswa satu persatu diminta untuk mengumandangkan adzan, sembari diarahkan untuk memakai nada. Belajar mengumandangkan adzan ini dilatihkan salah satu tujuannya agar kelak dapat meneruskan kaderisasi dan bisa diandalkan di masjid di lingkungan tempat tinggal masing². Dimana saat ini banyak masjid yg muadzinnya adalah bapak-bapak tua yang sebetulnya membutuhkan peran pemuda Narasi dan video: Aisya Ilmiya Redaktur : Muflih Fathoniawan
Read MoreMembaca nyaring menjadi salah satu rutinitas harian siswa Semai Mula. Sesi ini biasanya dilakukan setelah waktu istirahat dan dilakukan dalam rentang waktu 10-15 menit. Tidak lama memang durasinya, tapi rutinitasnya yang kami jaga agar anak-anak senantiasa terhubung dengan buku dan literasi. Buku yang dibacakan adalah buku yang anak-anak bawa dari rumah. Karena banyak yang antusias, maka dibuatlah sistem antre. Buku diberi label nama dan urutan tayang 😄😄 Dari pengalaman selama ini, anak-anak merasa sangat bersemangat, berharga, dan bahagia ketika buku yang mereka bawa dari rumah dibacakan oleh Bu Desi di depan teman-teman yang lain. Buku yang dibaca memang acak karena berdasarkan urutan antrian. Tapi di akhir sesi membaca nyaring selalu ditarik refleksi, dihubungkan dengan 5 relasi penting di milestone perkembangan anak-anak. Dari aktivitas membaca nyaring ini anak-anak belajar mendengarkan, belajar ragam emosi, belajar cara mengekspresikan pikiran dan perasaan dalam bentuk kata dan kalimat. Semoga semakin ekspresif dan artikulatif ya, anak-anak ❤️
Read MoreBergerak menjadi kebutuhan mendasar anak-anak. Anak-anak yang aktif bergerak akan bahagia. Anak-anak yang bahagia juga akan aktif bergerak. Dua hal tersebut berkorelasi positif timbal balik dan saling mempengaruhi. Oleh karenanya, setiap hari Rabu, anak-anak jenjang Semai dan Mula Sekolah Alam Yogyakarta diajak untuk melatih raga fisik mereka dalam kegiatan outbound dan permainan tradisional. Di awal kehidupannya anak-anak perlu secara bertahap belajar menguatkan fisik motorik dan latihan koordinasi gerak serta keseimbangan tubuh.Ini perlu dilatihkan agar anak-anak tuntas motorik di usia yang semestinya. Pada Rabu, 5 Februari 2025, anak-anak Sekolah Alam Yogyakarta SAYOGYA diajak untuk bermain adu ketangkasan dengan bola. Sementara itu di zaman sekarang tantangan bergeraknya anak-anak terdistraksi oleh benda bernama hape. Anak-anak yang banyak terhubung dengan gadget akan malas bergerak. Jelas ini menghambat perkembangan fisik motorik mereka. Lebih jauh, hal tersebut akan mempengaruhi emosi mereka. Di SAYOGYA anak-anak dilatih untuk banyak bergerak. Ada banyak ragam kegiatan yang menstimulasi anak-anak untuk bergerak. Rutin setiap hari Rabu anak-anak dilatih untuk berolahraga, melakukan pemanasan sederhana, jalan kaki atau jogging, melakukan latihan ketangkasan, permainan tradisional, maupun low and high impact outbound. Hal sederhana yang mungkin tidak terlalu dilirik ketika orangtua/guru banyak fokus di tataran akademik, yang ternyata dampaknya besar jika anak tidak tuntas motorik. Dampaknya akan terbawa sampai dewasa! Foto : Dokumentasi Pamong SayogyaTulisan : Desi MayasariRedaktur : Muflih Fathoniawan
Read MoreDari tahu kupat anak-anak belajar bahwa beras dapat dimasak dalam bentuk olahan lain dengan bungkus bahan alam Tidak seperti hari Selasa, Rabu, dan Kamis, hari Jumat siswa Semai Mula tidak membawa bekal makan siang ke sekolah. Kenapa? Karena setiap hari Jumat siswa berlatih dan membantu memasak di sekolah. Tak terkecuali pada Jumat, 7 Februari 2025 lalu. Tidak semua siswa terlibat dalam kegiatan memasak. Di waktu yang sama, siswa yang lain berkegiatan terkait pekerjaan pertukangan atau literasi berdasarkan kebutuhan dan giliran. Menu yang dimasak beragam dan berganti-ganti setiap pekannya. Kali kemarin menu yang dimasak adalah tahu kupat. Makanan dengan kombinasi ketupat, tahu, tauge, kol, daun bawang, seledri, bawang goreng dan kerupuk berpadu dengan kuah dengan cita rasa manis dan asam ditambah taburan kacang tanah bubuk menggugah selera kita semua Jumat siang itu. Apalagi untuk orang dewasa ditambah dengan sambal cabe rawit pedas. Wuaaahhh, rasanya mantap sekaliii 😍😋 Dari tahu kupat anak-anak belajar bahwa beras dapat dimasak dalam bentuk olahan lain dengan bungkus bahan alam, yakni daun kelapa yang masih muda yang disebut janur kelapa. Bersamaan dengan itu dihadirkan pula lontong dengan bungkus daun pisang. Betapa sejak zaman dahulu nenek moyang kita sudah mewariskan ilmu membungkus dengan bahan yang ramah alam, yang akan kembali ke tanah setelah dimanfaatkan. Kira-kira 2 jam waktu yang dibutuhkan untuk menyajikan sekitar 50 porsi tahu kupat. Para pamong bekerja sama dengan para siswa Semai dan Mula putri untuk menyelesaikannya. Para siswa pun riang gembira menerima tugas. Ada yang membantu menghaluskan bumbu, menumbuk kacang tanah, mengiris dan menggoreng tahu, dll. Semoga latihan-latihan kecil dalam proses memasak mematrikan sebuah kebiasaan baik bagi siswa perempuan untuk terbiasa menyajikan menu sehat bagi keluarga. Semoga menu tahu kupat ini tidak hilang dari peradaban. Foto : Dokumentasi Pamong Sayogya Tulisan : Desi MayasariRedaktur : Muflih Fathoniawan
Read More(Taman Sayogya, 4/2/2025) Perjalanan belajar sebulan diikat dalam sebuah agenda refleksi. Ini rutin dilakukan dengan berbagai cara agar apa-apa yang selama ini dipelajari terikat makna dan hikmahnya ❤️ Di refleksi kali ini siswa dibagi menjadi dua kelompok dengan komposisi siswa Semai (4-6 tahun) dan Mula (6-9 tahun). Sebelum memulai permainan mereka diminta untuk berdiskusi dan bersepakat menentukan nama tim, juru bicara, dan bunyi bel. Pertanyaan demi pertanyaan diluncurkan. Anak-anak sangat antusias bergantian merespon 😍🤩 Pertanyaan yang yang digulirkan tentang dengan apa yang telah dipelajari selama bulan Rajab kemarin terkait 5 relasi penting: Allah, keluarga, diri, masyarakat, dan alam. Gelak tawa mewarnai aktivitas kami siang itu. Anak-anak terlihat bahagia dan menikmati prosesnya 🥰 Semoga aliran pengetahuan, latihan keterampilan dan kebiasaan selama sebulan kemarin membekas dalam keseharian anak-anak dan menguatkan keyakinan mereka dalam ikhtiar belajar hidup tenang 🌿 Foto dan narasi : Bu Desi Mayasari | Redaktur : Pak Muflih Fathoniawan
Read MorePada hari Selasa, 4 Februari 2025, siswa jenjang Madya, Muda, dan Dewasa memiliki ragam aktivitas sesuai dengan nilai Panca Dharma SAYOGYA. Ketika datang ke sekolah, siswa laki-laki bergabung dengan forum kajian Ayah yang rutin setiap pagi dilakukan oleh para Ayah siswa SAYOGYA. Forum ayah Sayogya ini dipandu oleh Pak Mohammad Ferandy. Dalam forum ini, siswa dikembangkan menjadi pribadi yang tangguh dan berwawasan kepemimpinan keluarga. Aktivitas siswa berikutnya yakni outbound yang dipandu oleh Pak Fery Ghozali. Kegiatan outbound dilakukan sejalan dengan nilai Panca Dharma SAYOGYA yakni menghargai dan mengembangkan diri sejati. Siswa tak hanya dilatih fisik, namun juga diuji ketangkasannya. Siswa dipersiapkan untuk produktif di masa depan pada usia kerja nanti sebagai pribadi yang sehat jiwa raga dan bermental tangguh menghadapi segala tantangan. Usai outbound, siswa diajak untuk mensyukuri segala yang Allah hadirkan di lingkungan Beran Kidul sebagai tempat beraktivitas sehari-hari. Ternyata, di padukuhan Beran Kidul, banyak pohon rambutan yang berbuah matang dan perlu dipanen agar tidak mubadzir. Pamong dan siswa SAYOGYA berisiniatif untuk membantu warga Beran Kidul memanen rambutan, diantaranya pohon rambutan milik Pakdhe Mandar, Pakdhe Marjo dan beberapa milik warga lain. Sesuai dengan nilai Panca Dharma SAYOGYA, para siswa mensyukuri dan melestarikan pohon rambutan dengan memanennya sebagai makanan pemberian dari Allah. Dengan itu juga berguna membantu warga Beran Kidul untuk melestarikan sumber daya alam sekitar. Selain disyukuri untuk dimakan, para siswa juga menjual rambutan yang sudah dipanen di sekitar lapangan Pemda Sleman. Berjualan rambutan ini dilakukan untuk berbagi kebermanfaatan dan sebagai bekal aktivitas produktif bersama ke depannya. Foto dan Narasi : Pak Irfan Dary Nasution | Redaktur : Muflih Fathoniawan
Read More
Recent Comments